Sumedang, Jawa Barat (ANTARA) - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa hilirisasi merupakan salah satu jalan untuk menciptakan sumber pendapatan negara guna mewujudkan cita-cita Indonesia Emas pada 2045.
“Maka ketika saya masuk di dalam pemerintah, Presiden Jokowi langsung memerintahkan kami untuk segera memikirkan langkah-langkah komprehensif terukur untuk merealisasikan investasi di bidang hilirisasi,” kata Bahlil dalam Kuliah Umum di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Sumedang, Jawa Barat, Kamis.
Baca juga: BI sebut penguatan hilirisasi pangan dan minerba dukung pertumbuhan ekonomi
Bahlil mengatakan penciptaan nilai tambah penting untuk meningkatkan pendapatan negara. Sebelum dilakukannya hilirisasi, ekspor nikel pada 2017 hanya mencapai 3,3 miliar dolar AS.
Sementara pada 2023 atau setelah hilirisasi diberlakukan, angkanya meningkat signifikan menjadi 33,8 miliar dolar AS. Angka tersebut hanya berasal dari satu sampai dua turunan nikel, belum termasuk Electric Vehicle (EV) baterai dan mobil listrik.
“Pada tahun 2023 nilai ekspor kita dari hasil hilirisasi nikel mencapai 33,8 miliar dolar AS. Naik 10 kali hanya dalam waktu empat sampai lima tahun,” kata dia.
Lebih lanjut, dia mengungkapkan, pihaknya telah membuat desain untuk hilirisasi baik di sektor minyak dan gas, mineral dan batubara, perkebunan, perikanan, kehutanan dan pertanian.
“Kita menciptakan nilai tambah di sini, supaya menciptakan lapangan kerja. Kalau lapangan kerja tercipta, hilirisasi terbangun, pendapatan negara naik, upah naik, gaji pegawai negeri juga naik,” katanya.
Oleh karena itu, Bahlil mengatakan, pihaknya telah mendorong untuk setiap investasi yang masuk ke daerah, wajib berkolaborasi dengan pengusaha-pengusaha dan UMKM-UMKM di daerah.