Pemprov Jawa Barat menawarkan sejumlah proyek investasi senilai 59 miliar dolar AS kepada Duta Besar (dubes) negara sahabat untuk Indonesia dan CEO perusahaan luar negeri pada acara CEO Ambassador and Breakfast Meeting di Kota Bandung, Kamis.

Sejumlah Duta Besar yang hadir pada acara tersebut ialah Polandia, Uni Eropa, Belanda, India, Finlandia dan perwakilan Kanada dan perusahaan yang hadir terdiri dari dalam dan luar negeri baik dari Asia, Eropa dan Amerika.

Acara tersebut merupakan kerja sama antara Pemprov Jabar dengan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang dipimpin oleh Dino Patti Djalal.

Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil mengatakan acara tersebut adalah ajang mempraktekkan door to door marketing untuk sejumlah proyek infrastruktur di Jawa Barat.

"Ini bukan bisnis jaga warung. Kalau politik ekonomi jaga warung adalah nunggu orang datang, Jabar melakukan polanya door to door menjemput rezeki," ujar dia.

Emil mengatakan ada sekitar 12 pertanyaan dari sejumlah CEO dan dubes tersebut diantaranya mengenai isu sosial politik di Jabar yang notabene sebagai provinsi dengan jumlah muslim terbanyak di Indonesia.

Dan yang paling konkret dari kegiatan ini, kata dia, yaitu diserahkannya surat oleh CEO TVS dari India yang hendak menyumbangkan motor pengangkut sampah untuk didonasikan.

"Namun juga saya tawarkan forum CSR Jabar mereka akan bergabung, Pak Dino yang atur, mereka akan membelanjakan CSR sesuai kebutuhan kita," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan keberadaan Dino Patti Djalal pada acara tersebut ialah sebagai penasihat mengingat yang bersangkutan memiliki jaringan yang luas dengan sejumlah pihak di luar negeri.

"Beliau sebagai mantan Wamenlu yang memiliki jaringan luar biasa, jadi Pak Dino nanti akan memimpin whatsapp grup. Ini 3.0 dynamic goverment," kata Emil.

Sementara itu Dino Patti Djalal perwakilan FPCI mengatakan sedikitnya ada sekitar 50 tamu yang hadir di acara tersebut di mana tujuh dari negara yang mewakili kedutaan, enam Dubes sementara sisanya CEO dan level eksekutif korporasi.

"Adapun negaranya kalau CEO ada dari Singapura, Jepang, Amerika, Afrika Selatan, Thailand, dan ini akan dilakukan tahun depan. Keinginan kita setidaknya dua kali setahun atau lebih bergantung jadwal Pak Gubernur," ujar Dino.

Dia memastikan akan membantu Jabar memperkenalkan relasi di Jepang untuk konferensi bisnis pada pekan depan dan 60 persen perusahaan manufaktur Indonesia ada di Jabar patut dibanggakan, termasuk dari segi segigi kompetitif dan produktivitas yang di atas rata-rata nasional.

"Pertumbuhan ekonomi Jabar di atas nasional. Kalau tantangannya, UMR, birokrasi  maka kita respons sehingga pemerintah daerah tidak terlalu birokratis, menjemput bola, yang inovatif dan memberlakukan investor sebagai mitra," katanya.

Sebagai mantan Dubes Indonesia untuk Negara Amerika, Dino memahami betul sejumlah dinamika yang sering dikeluhkan oleh para investor bilamana hendak menanamkan modal yakni tak jarang merasa diperlakukan sebagai sapi perah.

Baca juga: 26 MoU proyek investasi diteken pada WJIS 2019

Baca juga: Berantas calo, Pemkab Cianjur targetkan investasi sehat

Baca juga: Indonesia gandeng 21 pengusaha Arab Saudi bahas investasi di Indramayu

Baca juga: Cianjur targetkan investasi di sekitar pintu tol untuk perekonomian

Pewarta: Ajat Sudrajat

Editor : Yuniardi Ferdinan


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2019