Garut (ANTARA) - Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat mendorong petani untuk menanam jagung dengan memanfaatkan lahan tadah hujan menjelang kemarau karena komoditas tersebut tidak membutuhkan banyak air dibandingkan padi sehingga tingkat risikonya kecil.

"Jagung, dan komoditi lain yang lebih tahan kering, seperti tembakau dan kacang-kacangan," kata Kepala Dispertan Kabupaten Garut, Ardhy Firdian di Garut, Rabu.

Ia menyampaikan, informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bahwa pertengahan 2026 akan terjadi kemarau yang disebut Godzilla El Nino atau lebih panjang dari tahun sebelumnya dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Adanya potensi kemarau panjang itu, kata dia, maka Dispertan Garut melakukan langkah antisipasi salah satunya menyarankan petani untuk tidak menanam padi di lahan tadah hujan, melainkan komoditas lain yang tidak membutuhkan air banyak, salah satunya jagung.

Ia menyebutkan, lahan tadah hujan di Garut tercatat seluas 10.301 hektare yang selama ini dimanfaatkannya untuk komoditas padi yang hanya mengandalkan sumber pengairan tergantung pada hujan.

Selama ini, lanjut dia, petani sudah memahami penerapan pola tanam yang tepat menjelang musim kemarau yakni tidak menanam padi, melainkan komoditas lain, seperti jagung.

"Secara teknis, hampir semua lahan tanam jagung penanamannya di areal lahan kering yang secara otomatis merupakan lahan tadah hujan," katanya.

Ia mengatakan, Dispertan Garut juga berkolaborasi dengan instansi lain untuk mengoptimalkan lahan yang sudah ditanami komoditas tanaman jagung, salah satunya di wilayah Kecamatan Malangbong.

"Ini (di Malangbong) tanah carik, 'exsisting' ditanami jagung, ada juga yang masuk lahan tadah hujan," katanya.

Salah seorang petani jagung di Kampung Cikendal, Desa Sukalarang, Kecamatan Sukawening, Garut, Jajang Sumpena (54) mengatakan, saat ini lahan tadah hujan seluas 3 hektare selalu ditanami komoditas jagung.

Termasuk menjelang musim kemarau, kata dia, sudah memperhitungkan waktu tanamnya yakni dilakukan lebih awal saat kondisi tanah masih basah, agar nanti empat bulan kemudian bisa panen.

"Kebutuhan air untuk jagung itu hanya diawal, setelahnya tidak terlalu banyak air, jadi misalkan kalau saya tanam sekarang, nanti masih bisa panen di Juli atau Agustus," katanya.

Upaya mengoptimalkan lahan pertanian agar terus produktif, juga mendapatkan dukungan dari jajaran Kepolisian Resor Garut dengan ditanami komoditas jagung.

Kepala Polsek Sukawening AKP Budiman turun langsung mendampingi jajaran dari Dispertan Garut dan petani yang memanfaatkan lahan tidak produktif di Blok Panandaan, Desa Sukalarang, Kecamatan Sukawening seluas 1 hektare agar menjadi produktif dengan ditanami jagung.

"Program ini merupakan bagian dari komitmen Polri dalam mendukung ketahanan pangan. Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama memanfaatkan lahan yang ada agar lebih produktif dan bernilai ekonomis," katanya.

 



Pewarta: Feri Purnama
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026