Garut (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Jawa Barat menyampaikan risiko bencana hidrometeorologi masih harus diwaspadai selama musim hujan di daerah itu yang diprediksi hingga April 2026.

"Ya, ini cuaca yang memang kita sudah sampaikan, kita masih dalam siaga darurat bencana hidrometeorologi basah dan ini berakhir sampai 30 April," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut Aah Anwar Saefuloh di Garut, Senin.

Ia menuturkan pemerintah daerah menerbitkan surat edaran terkait siaga darurat bencana sejak Oktober 2025 hingga April 2026 terkait potensi bencana hidrometeorologi pada musim hujan.

Saat ini, pada Februari 2026, kata dia, merupakan puncak dari  ancaman bencana hidrometeorologi dengan adanya hujan deras dan terjadi beberapa bencana banjir, longsor, serta cuaca ekstrem.

"Sekarang sudah mulai pada puncaknya," katanya.

Ia menyampaikan sejak beberapa hari ke belakang terjadi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah Garut yang dilaporkan mengakibatkan bencana tanah longsor.

Namun, katanya, bencana yang terjadi itu, masih tingkat lokal seperti menimpa badan jalan di wilayah Banjarwangi dan saat itu juga sudah langsung ditangani.

"Laporan-laporan (bencana alam) ada, tapi lokal yang memang kebanjiran, tapi surut lagi," katanya.

Ia menambahkan Garut salah satu kabupaten dengan tingkat potensi bencana alam yang cukup tinggi, sehingga semua jajaran pemerintah daerah maupun masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan.

BPBD Garut selama ini sudah melakukan langkah mitigasi bencana alam dengan memberikan pemahaman kebencanaan dan imbauan kepada masyarakat untuk tidak memicu terjadinya bencana alam, seperti tidak membuat kolam maupun rumah pada kemiringan yang curam.

"Garut selatan ini pada lingkungan yang memang kondisi tanahnya ekstrem, makanya jangan membuat embung-embung air dalam kemiringan yang curam," katanya.

 



Pewarta: Feri Purnama
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026