Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis obstetri dan ginekologi lulusan Universitas Indonesia dr. Amarylis Febrina Choirin Nisa Fathoni, Sp.OG, IBCLC menjelaskan efek samping yang dapat terjadi pada tubuh wanita jika mengalami rahim copot.
"(Pasien) enggak bisa punya anak lagi, kalaupun (rahim) disambung itu agak tricky, karena pembuluh darahnya pasti akan ada yang terlepas dan yang lain sebagainya," kata Nisa dalam temu media di Jakarta, Selasa.
Menanggapi temuan kasus yang saat ini santer dibicarakan oleh masyarakat, Nisa menyampaikan bahwa rahim yang telah lepas menyebabkan wanita tidak mampu memiliki anak lagi karena tidak ada tempat bagi sperma dan telur melakukan pembuahan.
Sementara pembuahan baru akan berhasil apabila embrio berkembang dalam tuba falopi.
"Jadi kan kalau embrio kan dia terjadinya pembuahan di tuba, ketemu sama sperma dan sel telur, jadilah embrio. Embrio akan jalan ke rahim. Kalau rahimnya enggak ada terus jalan ke mana?" ujarnya.
Wanita yang mengalami kejadian itu juga akan sulit untuk kembali mengalami menstruasi setiap bulan.
Meski demikian, Nisa mengatakan bahwa ovarium yang tersisa masih menjalankan fungsi hormonal sebagaimana semestinya.
"Sebenarnya tubuh kita masih ovulasi dan (merasa seperti) menstruasi, cuma ya darahnya enggak keluar karena keluarnya darah itu dari lapisan endometrium yang meluruh, kalau rahimnya tidak ada, endometrium sudah enggak ada," kata dokter yang punya sertifikasi sebagai Konsultan Laktasi Internasional (IBCLC) itu.
Ia melanjutkan bahwa rahim wanita disokong oleh sejumlah struktur kuat seperti ligamentum dan jaringan penopang lain.
