Ia menjelaskan konsep inklusif itu tercermin dari kehidupan para santri serta kiai yang tidak terpisah oleh batas atau pagar antarpondok. Semua pesantren di kawasan Buntet hidup berdampingan dan saling berbaur dengan masyarakat setempat.

Lurfhi menyampaikan Buntet Pesantren yang berdiri di lahan seluas 33 hektare, kini menaungi sekitar 71 pondok pesantren.

Ia menyampaikan saat ini jumlah santri yang menimba ilmu di Buntet Pesantren mencapai 8.000 santri mukim dan sekitar 2.000 santri kalong atau tidak menetap.

“Di sini tidak ada gerbang besar yang membatasi antarpondok. Semuanya menyatu, hidup berdampingan,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Cirebon Imron menilai Hari Santri Nasional 2025 merupakan momen penting untuk mengenang perjuangan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta membangun moral bangsa.

Ia mengajak seluruh santri di Kabupaten Cirebon untuk terus memperkuat ilmu dan akhlak, agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai keislaman dan kebangsaan.

Imron menambahkan, pemerintah daerah berkomitmen mendukung kegiatan keagamaan dan pendidikan pesantren sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkarakter.

“Pendidikan pesantren harus melahirkan santri yang unggul, adaptif, dan cinta tanah air,” tuturnya.

 

 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: YLPI Buntet Pesantren: Ponpes jadi ujung tombak peradaban bangsa

Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026