Cirebon (ANTARA) - Kepala Bidang Kepesantrenan Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren KH Mohammad Luthfi menegaskan pondok pesantren (ponpes) memiliki peran penting sebagai ujung tombak pendidikan nasional yang memajukan peradaban bangsa.

Ia menilai peran santri dalam sejarah Indonesia tidak dapat dipandang sebelah mata karena pendidikan di tanah air bermula dari pesantren, jauh sebelum lahirnya lembaga pendidikan formal.

“Santri jangan dianggap tradisional atau kolokan. Pendidikan awal di Indonesia berasal dari pesantren,” ujar Luthfi di Cirebon, Rabu.

Ia menuturkan Hari Santri Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat atas peran besar santri dalam perjalanan sejarah dan peradaban Indonesia.

Pihaknya menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat yang telah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, karena kebijakan itu menjadi pengakuan negara atas jasa dan perjuangan kaum santri.

Setiap peringatan momen tersebut, pihaknya selalu meliburkan seluruh aktivitas belajar mengajar di semua jenjang pendidikan, mulai dari dasar hingga perguruan tinggi.

 

“Setiap tahun semua lembaga pendidikan di Buntet kami liburkan untuk menghormati Hari Santri,” ujarnya.

Ia mengatakan Buntet Pesantren merupakan salah satu ponpes tertua di Indonesia, yang berdiri sejak 1750 Masehi.

Ia menjelaskan pada tahap pertama pesantren ini hanya memiliki harapan, kemudian menumbuhkan cita-cita, serta sekarang Ponpes Buntet mendedikasikan diri sepenuhnya bagi bangsa dan negara.

Menurut dia, pemerintah telah memberikan perhatian lebih besar terhadap keberlangsungan dan pengembangan pesantren agar tetap menjadi pilar utama pendidikan karakter bangsa.

Selain itu, ia menegaskan pesantren, seperti Ponpes Buntet Cirebon, memiliki karakter inklusif yang terbuka bagi siapa pun tanpa memandang latar belakang sosial maupun budaya.

Sikap keterbukaan itu, kata dia, menjadi keistimewaan bagi Ponpes Buntet sejak awal berdirinya, serta menjadikannya sebagai pusat pendidikan dan pembinaan karakter yang mampu menampung keberagaman.



Pewarta: Fathnur Rohman
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026