Di sisi lain, pelatih Korea Selatan U-23 Lee Min-sung juga tak akan bermain aman pada pertandingan nanti, meski satu poin sudah cukup mengantarkan mereka ke Piala Asia U-23 2026 sebagai juara Grup J. Jika lolos, Korea Selatan akan mencatatkan edisi Piala Asia U-23 untuk ketujuh kalinya, atau dalam artian lain tak pernah absen pada putaran final sejak turnamen kelompok usia ini digelar pada 2013 di Oman.
"Kami datang ke sini untuk memainkan tiga pertandingan dan sejauh ini berjalan sesuai rencana. Tidak ada yang istimewa meski melawan tim tuan rumah. Saya percaya dengan persiapan yang kami lakukan, kami akan tampil dengan performa terbaik besok," kata Ming-sung.
Kenangan indah 2024
Manajer timnas U-23 Indonesia Ahmad Zaki Iskandar meminta para pemain Garuda Muda untuk melakukan dua hal pada pertandingan melawan Korea Selatan. Dua hal itu adalah fokus dan disiplin.
Menurut Zaki, dengan dua hal itu, maka Indonesia sangat bisa mengalahkan Korea Selatan, yang merupakan juara Piala Asia U-23 edisi 2020 tersebut. Ia juga menyadari bahwa tim Korea Selatan sangatlah menakutkan karena sudah mampu menyarangkan 12 gol dan tanpa kebobolan sejauh ini.
Dalam hal produktivitas, mereka termasuk ke dalam enam tim tersubur di babak kualifikasi ini, bersama Yordania (17 gol) dari Grup A, Australia (20 gol) dan China (12 gol) dari Grup D, Qatar (15 gol) dari Grup H, dan Uni Emirat Arab (15 gol) dari Grup I. Kendati demikian, selama bola itu bundar.
"Kita (Indonesia) mesti optimistis," kata Zaki.
Selain fokus dan disiplin, Indonesia juga patut melihat ke belakang, bahwa mereka pernah memiliki kenangan indah melawan Korea Selatan. Tak tanggung-tanggung, Garuda Muda menyingkirkan mereka di perempat final Piala Asia U-23 2024 dalam adu penalti dengan skor 11-10. Kala itu, Pratama Arhan mencetak gol penalti penentu untuk membawa Indonesia mengukir sejarah ke semifinal sebagai tim debutan.
Dan dari 23 skuad yang dibawa Vanenburg di babak kualifikasi ini, tujuh di antaranya adalah alumnus Piala Asia U-23 2024. Mereka adalah Arkhan Fikri, Rafael Struick, Hokky Caraka, Muhammad Ferarri, Dony Tri Pamungkas, Daffa Fasya, dan Rayhan Hannan. Khusus Struick, dia memiliki pengalaman indah menghadapi Korea Selatan, setelah dia mencetak dua gol pada waktu normal dalam skor 2-2.
Turunkan kekuatan utama
Hal pertama yang perlu dilakukan Vanenburg adalah menurunkan skuad terbaiknya sejak sepak mula. Vanenburg melakukan perubahan besar-besaran dalam susunan starternya dalam laga kedua melawan Makau di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sabtu lalu.
Ada tujuh perubahan yang dilakukannya, termasuk dengan mencadangkan Kadek Arel, Dony Tri Pamungkas, Jens Raven, hingga Rafael Struick. Perubahan itu membawa angin segar setelah Indonesia mampu menumbangkan Makau dengan skor telak 5-0. Skor ini sama dengan yang diraih Korea Selatan pada laga pertamanya.
Dengan banyaknya pemain yang sudah ia turunkan, Vanenburg dapat menurunkan skuad terbaiknya melawan Korea Selatan, dimulai dengan Cahya Supriadi sebagai kiper setelah dirinya tak tergantikan dalam dua pertandingan.
