Jakarta (ANTARA) - Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi mengatakan penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi “gencatan senjata” pengenaan tarif selama 90 hari antara Amerika Serikat (AS) dengan China.
“Para pejabat AS dan Tiongkok sepakat untuk memperpanjang gencatan senjata tarif 90 hari mereka pada hari Selasa (29/7), setelah dua hari perundingan yang digambarkan kedua belah pihak sebagai perundingan konstruktif di Stockholm (Swedia) yang bertujuan meredakan perang dagang yang semakin memanas antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia yang mengancam pertumbuhan global,” kata Ibrahim Assuabi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent meredam ekspektasi bahwa Presiden AS Donald Trump akan menolak perpanjangan tersebut, karena pertemuan dengan China sangat konstruktif.
Alhasil, keputusan untuk memperpanjang gencatan tarif perdagangan yang berakhir pada 12 Agustus atau membiarkan tarif melonjak kembali ke angka tiga digit, berada di tangan Trump.
Di sisi lain, sentimen terhadap rupiah juga berasal dari keyakinan pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuan.
The Fed tak berkomitmen untuk pelonggaran lebih lanjut, meskipun ada tekanan dari Presiden AS untuk memangkas suku bunga.
Tekanan dari Trump disebut dapat menimbulkan perselisihan di antara para pembuat kebijakan The Fed.
