Jakarta (ANTARA) - Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai penguatan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi sinyal potensi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
“Pasar terus bergulat dengan sinyal beragam dari beberapa pejabat The Fed mengenai potensi penurunan suku bunga pada bulan Juli,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Secara probabilitas, The Fed bakal mempertahankan suku bunga saat ini dengan peluang sebesar 97 persen untuk mempertahankan suku bunga dan 3 persen untuk penurunan suku bunga 25 basis points pada pertemuan Federal Open Market Committee di 30 Juli nanti.
Di samping potensi yang ada, kini Gubernur The Fed Jerome Powell tengah menghadapi tuduhan karena berbohong di bawah sumpah di hadapan kongres terkait renovasi kantor pusat bank sentral AS tersebut senilai 2,5 miliar dolar AS. Laporan itu dilakukan oleh Anggota DPR Anna Paulina Luna dari Partai Republik yang sudah resmi melaporkan masalah tersebut ke Departemen Kehakiman AS.
“Meskipun konsekuensi hukumnya masih belum pasti, tekanan politik memicu kekhawatiran investor dan menambah ketidakpastian baru pada sentimen pasar yang sudah rapuh,” ungkap Ibrahim.
Selain itu, penguatan nilai tukar (kurs) rupiah juga terjadi di tengah prospek kesepakatan antara Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS) yang semakin memudar.
“Perundingan yang sedang berlangsung antara Uni Eropa dan AS telah gagal mencapai kemajuan yang berarti selama beberapa minggu terakhir,” ucap dia.
UE sedang berupaya mencapai kesepakatan dagang dengan AS sebelum batas waktu 1 Agustus 2025, yang mana akan berlaku tarif sebesar 30 persen.
AS menginginkan tarif secara universal terhadap barang-barang UE lebih dari 10 persen, dengan pengecualian terhadap barang penerbangan, perangkat medis, obat generik, minuman beralkohol, serta seperangkat peralatan manufaktur yang dibutuhkan oleh AS.
