Antarajabar.com - Tim dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut mendorong anak-anak korban pencabulan agar tetap bersemangat sekolah untuk belajar.
"Ada sejumlah ana-anak korban pelecehan tidak mau sekolah, karena malu menjadi bahan olokan," kata Ketua P2TP2A Kabupaten Garut, Diah Kurniasari saat meninjau kampung korban di Kecamatan Cigedug, Garut, Jumat.
Ia menuturkan para korban itu harus memiliki semangat belajar di sekolah untuk menjaga masa depannya lebih baik.
Peran orangtua, kata Diah, wajib memberikan semangat anaknya agar pecaya diri dan kembali bergaul dilingkungannya.
"Kami beri pengarahan ke orangtua bahwa anak mereka harus diberi semangat," katanya.
Pihaknya juga berupaya mengajak masyarakat dan anak-anak lainnya agar tidak melakukan tindakan seperti mengejek kepada korban.
Menurut dia ejekan itu akan menjadi beban anak tersebut sehingga menghambat semangat kembali bergaul di lingkungannya.
"Jangan menjadi bahan ejekan dan menjadi beban," katanya.
Ia menambahkan P2TP2A bersama lembaga lainnya akan berupaya mendampingi korban sebagai upaya proses pemulihan kejiwaannya.
Anak-anak yang menjadi korban maupun tidak, kata Diah, diajak mengikuti permainan untuk menghilangkan trauma.
"Kami juga mengajarkan agar anak tidak malu bergaul kembali dengan teman sebayanya," kata Diah.
Kepolisian Resor Garut telah menetapkan inisial F (14) yang masih duduk dibangku kelas 1 SMP sebagai tersangka kasus pencabulan terhadap delapan anak-anak di Kecamatan Cigedug.
Sebelumnya polisi mendapat laporan 15 anak menjadi korbannya, tetapi pengakuan dari tersangka hanya kepada delapan anak-anak.
P2TP2A Dorong Korban Pencabulan Untuk Semangat Sekolah
Sabtu, 5 Maret 2016 11:14 WIB
