"Hingga bulan Februari 35 warga Kabupaten Garut telah terjangkit DBD," kata Kepala Dinkes Kabupaten Garut, dr Tenny S Rivai melalui telepon seluler, Kamis.
Ia mengatakan seluruh warga yang terjangkit DBD sudah mendapatkan penanganan medis dan tidak menimbulkan korban jiwa.
Ia mengungkapkan angka kasus DBD di Garut telah mengalami penurunan berdasarkan data setiap tahunnya.
"Ada penurunan, tahun 2014 ada 493 orang, tahun 2015 menurun jadi 336 orang," katanya.
Menurut dia, masih adanya wabah penyakit tersebut karena masyarakat belum paham terkait pemberantasan nyamuk DBD dengan program 3M yakni menguras, mengubur dan menutup yang menjadi sarang berkembang biaknya nyamuk.
Ia mengimbau masyarakat untuk rutin membersihkan bak penampungan air minimal sekali dalam sepekan.
Terutama, lanjut dia, pemilik tempat pengisian air ulang harus memperhatikan kebersihan tempat penampungan airnya, karena terindikasi menjadi sarang nyamuk.
"Saat memeriksa sejumlah pengisian air ulang terdapat jentik nyamuk, saya imbau penampungan air untuk diperiksa dan dibersihkan minimal tiga kali dalam seminggu," katanya.
Ia berharap kepedulian masyarakat dalam menjaga lingkungan yang sehat dan bersih dapat mencegah wabah DBD di Garut.
Selain DBD, kata Tenny, masyarakat dapat mengantisipasi wabah lainnya seperti penyakit zika dan chikungunya.
"Masyarakat harus tetap waspada, dan selalu menjaga kebersihan lingkungan, lebih baik mencegah daripada mengobati," katanya.
Pewarta: Feri PurnamaEditor : Sapto HP
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.