Antarajawabarat.com, 12/7 - Pesulap jebolan The Master season satu Abu Marlo bersyiar melalui "Ramadhan Pekan Cahaya Al-Quran" dengan mengajak kaum Muslim untuk memahami makna Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
"Banyak orang ketika ditanya, pedoman hidupnya apa, mereka menjawab Al-Qur’an, tapi ketika ditanya lagi, mereka hampir 90 persen tidak paham dan tidak mengerti makna yang terdapat dalam Al-Qur’an," kata Abu Marlo dalam acara talkshow Ramadhan Pekan Cahaya Al-Qur’an di Bandung, Jum’at.
Pesulap yang juga termasuk salah satu penggas acara itu mengaku tergerak hatinya untuk mengajak orang-orang yang selama ini tidak memahami secara utuh makna yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Padahal setiap orang pada dasarnya pasti menginginkan berada di jalan yang benar dan baik, namun menurut Abu, bagaimana orang bisa berada di jalan itu apabila ia tidak mengerti pedoman nya sendiri.
"Pergi ke mana pun yang belum kita ketahui tempatnya, tentu membutuhkan peta sebagai petunjuk, kalau tidak ada peta bisa nyasar, sama dengan kehidupan apabila tidak berpedoman bisa salah," kata laki-laki lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
Secara pribadi Abu mengakui bahwa dirinya baru mengenal islam lebih dalam tiga tahun terakhir, padahal menurut penuturannya ia sudah melaksanakan apa yang diperintahkan Islam.
"Saya sudah naik haji, pergi umrah beberapa kali, shalat saya jalankan, tapi saat itu saya belum paham, apa makna sebetulnya yang saya lakukan itu," kata dia.
Maka dari itu, Abu mengajak masyarakat Bandung untuk bisa lebih paham pedoman hidup mereka (Al-Qur’an) dan mereka bisa mengimplementasikannya tidak cukup hanya sekedar membaca.
Melalui kegiatan talkshow itulah Abu mengaku bisa menyampaikan berbagi ilmu yang ia ketahui sesuai dengan arahan dari Al-Qur’an.
Dalam tiga tahun terakhir, Abu Marlo berkerja sama dengan majelis ta’lim Al-Hikmah menggelar acara talkshow Pekan Cahaya Al-Qur’an itu. Menurut dia selain pada Bulan Ramadhan dilakukan juga pembimbingan bagi masyarakat, namun dalam skala kecil.
Ia mengaku mengawali langkahnya berdasarkan hasil observasi dan penelitian yang ia lakukan dengan mengunjungi ke-30 pesantren dan beberapa majelis ta’lim di daerah Sulawesi dan Jawa, hasil hipotesis mini dia, menyebutkan sebanyak 86 persen sesuai data statistik orang Indonesia beragama Islam dalam KP-nya tak paham Al-Qur’an.
"Tadarus Al-Qur’an bukan hanya sekedar membaca tapi harusnya dipahami maknanya, dan sesungguhnya membaca itu sudah disuruh Allah. Al-Qur’an menyebutkan, dibaca, dipelajari, dilaksanakan, diimpelentasikan dan dilestarikan," kata Ustadz Lantoresano salah satu pengisi tausiyah talkshow tersebut menambahkan.
