Sumber, Cirebon, 23/8 (ANTARA) - Petani tebu rakyat di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, perlu mempercepat waktu tebang guna menghindari biaya tinggi, mengingat sampai sekarang masih turun hujan, kata Kabag Perkebunan setempat Ade Hassan.
"Watu tebang tebu perlu dipercepat untuk menghindari biaya tinggi antara lain dengan menggunakan mesin pemotong," kata Kabang Perkebunan, Dinas Pertanian, Perikanan, Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ade Hassan, di Sumber, Senin.
Dikatakan, realiasi penebangan tebu sampai periode lima hanya berkisar antara 38 dan 40 persen. Penebangan itu seharusnya 50 persen dari masa giling Pabrik Gula di Kabupaten itu selama 110 hari.
Ia mencontohkan, pabrik gula yang berkapasitas 35 ton tebu per hari, hanya tercapai sekitar 23 kuintal per hari. Guna mempercepat waktu tebang tersebut, pihaknya menguji coba beberapa unit mesin penebang yang selanjutnya ditawarkan ke petani tebu.
Selain itu, perlu meningkatkan tenaga kerja, namun karena selama bulan Puasa, agak sulit mengerahkan tenaga kerja. Untuk itu, ia berharap setelah Lebaran baik penggunaan mesin penebang maupun penambahan tenaga kerja dapat terpenuhi.
Berdasarkan perhitungan musim giling tiga Parbik Gula (PG) di Kabupaten Cirebon, yakni PG Tresana Baru, PG Sindang Laut dan PG Karang Suwung akan berakhir sekitar September 2010.
"Jika musim giling tersebut diperpanjang hingga Oktober, jelas petani akan terbebani biaya tebang dan biaya angkut," katanya.
Di pihak lain, dengan masih adanya hujan petani tebu dirugikan karena rendemen gula yang rendah. Rendemen gula di tiga PG tersebut tahun lalu rata-rata 7,6 persen, sedangkan tahun ini selama lima kali lelang hanya di bawah 7 persen, katanya.
Ditambahkan, luas areal tebu rakyat di Kabupaten Cirebon sekitar 20 ribu hektare.
***2***
Yasad A
