Garut, 9/12 (ANTARA) - Berbagai aksi demonstrasi memperingati Hari Anti Korupsi se-Dunia yang marak dilakukan di Garut ibukota Kabupaten Garut, Jawa Barat, Rabu juga menangkat isu-isu lokal.
Ratusan pengunjuk rasa dari berbagai elemen dan komponen masyarakat seperti HMI mendesak aparat penegak hukum agar segera menuntaskan pengusutan skandal Bank Century.
Ketua HMI Cabang Garut, Han Han Faizal, saat berorasi di halaman kantor Kejaksaan Negeri Garut menegaskan tuntutan komitmen pemberantasan korupsi dari para aparat penegak hukum di Indonesia.'
Peserta aksi demontrasi juga dari BEM Garut, Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi (LMND), Serikat Tani Indonesia serta Gabungan Anak Indonesia Bersatu (GAIB) mendesak penuntasan pengusutan indikasi kasus korupsi di beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Mereka antara lain mendatangi Kantor Badan Pertanahan, Dinas Pendidikan, Kejaksaan Negeri, dan GAIB diketuai Mulyono Khadafi mendatangi Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelauatan (Disnakanla) Garut.
Mulyono Khadafi membawa ratusan warga desa Simpen kecamatan Limbangan Utara, terdiri kalangan remaja, dewasa, orang tua dan ibu-ibu bersama anak balita nya berorasi dilengkapi nyanyian bersair sindiran diiringi tetabuhan kendang, sehingga banyak diantara pengunjuk rasa berjoget.
Mereka juga mendesak pengusutan kasus penjualan sapi bantuan pemerintah, yang dinilai para pengunjuk rasa sangat kental dengan indikasi nuansa korupsi, katanya.
Sebelum nya dilaporkan, Disnakanla diharuskan mengembalikan uang Rp107,525 juta ke kas negara sebagai dana sisa lebih, sebagaimana direkomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dari hasil audit nya, terhadap laporan keuangan Pemkab Garut tahun anggaran 2008.
Dana yang harus dikembalikan itu, berasal dari kegiatan Disnakanla pada program pengadaan 207 ekor sapi potong oleh pihak ketiga atau PO Jantan dengan nilai mencapai Rp1,3 miliar atau setiap ekor Rp6,325 juta.
Namun pada kenyataan berdasarkan hasil audit BPK-RI, bantuan sapi tersebut malahan dijual oleh sejumlah kelompok tani penerima bantuan.
Kepala Disnakanla setempat, Ir Hermanto mengaku pihak nya telah menerima hasil temuan BPK-RI ini, termasuk rekomendasi agar pihak nya mengembalikan dana Rp107,525 juta, karena dari hasil temuan BPK-RI itu terdapat lima kelompok tani tanpa alasan dan pemberitahuan apapun, menjual 17 ekor sapi bantuan yang mereka peroleh.
Terdiri kelompok tani Bentar di Desa Sukaratu kecamatan Sucinaraja menjual tiga ekor sapi, disusul kelompok tani Amanah desa Cimaragas kecamatan Pangatikan yang tak amanah karena menjual tiga ekor sapi bantuan, kemudian kelompok Tani Mekar di Desa/kecamatan Talegong juga menjual tiga ekor sapi.
Selanjut nya kelompok tani Kurnia di Desa Nanjungjaya kecamatan Kersamanah menjual dua ekor sapi, serta kelompok tani Harendong di desa Tanjungkamuning kecamatan Tarogong Kaler, menjual enam ekor sapi bantuan tersebut.
Sehingga terkait keharusan mengembalikan pendanaan nya, selain pihak Disnakanla telah menyampaikan teguran keras kepada kelima kelompok tani ini, juga mendesak mereka agar segera mengembalikan bantuan yang telah diterima.
Kepala Bidang Keswan Kesmapet Disnakanla Ir Dida K. Endang mengemukakan, bantuan sapi itu langsung direkomendasikan kalangan DPRD periode 2004-2009 lalu, sedangkan pihak nya hanya berkewajiban membina dan mengawasi nya, tanpa dilibatkan dalam proses penyeleksian pengadaan nya. ***4***
John Doddy Hidayat
(U.PK-HT/B/M019/M019) 09-12-2009 14:33:08
