Bandung (ANTARA) - Neraca perdagangan luar negeri Jawa Barat sepanjang periode Januari hingga Juli 2026 mencetak surplus sebesar 16,63 miliar dolar AS, dipicu oleh tingginya permintaan produk manufaktur industri pengolahan.
"Kinerja positif tersebut ditopang oleh nilai ekspor Juli 2026 yang menyentuh 3,98 miliar dolar AS, atau melonjak 9,62 persen dibandingkan perolehan Juni 2026," kata Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati di Bandung, Rabu.
Ari menjelaskan bahwa sektor industri pengolahan nonmigas menjadi motor utama dengan menyumbang hingga 98,61 persen dari total ekspor Jawa Barat.
"Secara kumulatif Januari-Juli 2026, total nilai ekspor menyentuh 23,58 miliar dolar AS," ujar Ari.
Di sisi lain, kata Ari, total nilai impor Jawa Barat pada Juli 2026 tercatat sebesar 1,16 miliar dolar AS.
Akumulasinya, lanjut Ari, nilai impor sepanjang Januari-Juli 2026 berada pada angka 6,95 miliar dolar AS.
Ari menjelaskan struktur impor Jawa Barat masih didominasi oleh impor bahan baku/penolong sebesar 80,35 persen, yang mengindikasikan tetap hidupnya aktivitas produksi pada sektor manufaktur domestik.
"Dengan demikian, neraca perdagangan Jawa Barat sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencetak surplus sebesar 16,63 miliar dolar AS. Negara penyumbang surplus terbesar bagi Jawa Barat adalah Amerika Serikat (3,76 miliar dolar AS), Filipina (2,06 miliar dolar AS), dan Vietnam (1,23 miliar dolar AS)," tutur Ari.
Pewarta: Ricky PrayogaEditor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.