Bandung (ANTARA) - Kinerja perdagangan luar negeri Provinsi Jawa Barat (Jabar) mencatatkan performa gemilang dengan membukukan surplus neraca perdagangan sebesar 13,79 miliar dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang periode Januari hingga Juni 2026.

Capaian surplus masif tersebut didukung oleh total nilai ekspor Jabar Semester I-2026 yang menembus angka 19,60 miliar dolar AS, atau melonjak 5,1 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kepala BPS Provinsi Jabar Margaretha Ari Anggorowati, di Bandung, Senin, merinci bahwa sektor industri manufaktur masih menjadi penopang utama ekspor eksternal Jabar dengan penguasaan pangsa pasar yang dominan.

"Kontribusi ekspor Januari-Juni 2026 masih didominasi oleh ekspor sektor industri manufaktur sebesar 98,66 persen, diikuti sektor migas 0,73 persen, sektor pertanian 0,61 persen, dan sektor tambang 0,01 persen," kata Ari.

Sementara dari sisi impor, akumulasi nilai pembelian barang luar negeri Jabar pada Januari-Juni 2026 berhasil ditekan di angka 5,81 miliar dolar AS atau turun 3,45 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Dari total keseluruhan impor, sebanyak 80,41 persen di antaranya merupakan impor bahan baku/penolong untuk industri dalam negeri.

Secara bilateral, Jabar mengantongi surplus terbesar dari transaksi perdagangan dengan Amerika Serikat sebesar 3,08 miliar dolar AS, disusul Filipina (1,72 miliar dolar AS), Vietnam (1,04 miliar dolar AS), dan Thailand (881,79 juta dolar AS).

Adapun defisit perdagangan Jawa Barat masih tercatat pada dua negara mitra utama, yakni dengan Tiongkok sebesar 1,19 miliar dolar AS dan Taiwan sebesar 53,84 juta dolar AS.



Pewarta: RPG
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026