Bandung (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat (Jabar) mencatat performa perdagangan luar negeri Tatar Pasundan sukses meraup surplus senilai 11,31 miliar dolar AS pada akumulasi periode Januari hingga Mei 2026.
Dari total surplus kumulatif tersebut, Amerika Serikat (AS) kokoh bertengger sebagai negara mitra dagang yang menjadi ladang tambang cuan ekspor terbesar bagi Jawa Barat.
"Angka fantastis ini terbentuk dari akumulasi nilai ekspor Januari-Mei 2026 yang menembus 15,97 miliar dolar AS di mana sektor industri pengolahan memegang kontribusi mutlak sebesar 98,76 persen," kata Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati di Bandung, Rabu.
Di sisi lain, total impor Jawa Barat pada periode yang sama berhasil ditekan di angka 4,66 miliar dolar AS, dengan struktur penggunaan didominasi oleh bahan baku atau penolong sebesar 80,58 persen.
Ari memaparkan, jika ditinjau berdasarkan mitra dagang antarnegara, Jawa Barat sukses mencetak surplus perdagangan terbesar, yang juga dengan Amerika Serikat sebesar 2.478,83 juta dolar AS.
Selain AS, pundi-pundi surplus neraca perdagangan luar negeri Jabar juga disumbang oleh transaksi dengan Filipina sebesar 1.461,52 juta dolar AS, Vietnam sebesar 803,59 juta dolar AS, dan Thailand senilai 763,63 juta dolar AS.
Namun demikian, performa dagang Jabar tidak sepenuhnya mulus di semua lini negara mitra. BPS mencatat defisit terdalam masih dialami Jawa Barat saat berhadapan dengan perdagangan bersama China yang minus sebesar 912,38 juta dolar AS, disusul defisit dengan Taiwan senilai 36,61 juta dolar AS.
Sedangkan untuk rapor bulanan pada Mei 2026, nilai ekspor Jawa Barat tercatat berada di angka 3,40 miliar dolar AS atau sedikit terkoreksi -1,63 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), sedangkan nilai impor berhasil ditekan ke level 0,98 miliar dolar AS atau turun sebesar 5,99 persen secara bulanan (mtm).
Rangkaian capaian makroekonomi Jabar yang dikeluarkan BPS Jabar per Juni ini, seperti inflasi bulan Juni 2026 sebesar 0,28 persen dan secara tahunan (yoy) sebesar 3,08 persen, serta kunjungan wisatawan mancanegara hingga 70 ribu dan wisatawan nusantara sebanyak 93,45 juta perjalanan sepanjang Januari-Mei 2026, menjadi indikator kuat bahwa fundamental ekonomi Jawa Barat masih terus bergerak di jalur yang tepat di tengah ketidakpastian iklim ekonomi dunia saat ini.
"Melalui data ini, BPS Jawa Barat menegaskan bahwa roda perekonomian daerah terus melaju positif dan ekspansif, namun tetap memerlukan atensi khusus dari pemangku kebijakan untuk memitigasi dampak kekeringan dan gejolak harga komoditas global terhadap ketahanan pangan lokal," kata Ari menambahkan.
Pewarta: RPGEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.