Bandung (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat mencatat realisasi inflasi Juni 2026 terkerek naik ke level 0,28 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), dipicu dominan oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi serta dampak awal musim kemarau terhadap pasokan pangan.
Meski demikian, BPS menegaskan fundamental ekonomi Tatar Pasundan di pertengahan tahun 2026 berada dalam kondisi ekspansif dan resilien, yang ditopang oleh penguatan daya beli petani serta surplus neraca perdagangan luar negeri senilai fantastis 11,31 miliar dolar AS.
"Secara umum, inflasi bulan Juni 2026 sebesar 0,28 persen dipengaruhi kuat oleh naiknya harga bahan bakar minyak nonsubsidi untuk jenis Pertamax dan Pertamax Green 95. Kenaikan harga ini memberikan andil inflasi yang cukup besar pada kelompok komoditas bensin, yakni mencapai 0,21 persen," ujar Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati di Bandung, Rabu.
Ari mengatakan pergerakan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) Jabar melesat di angka 3,08 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) menyentuh 1,70 persen. Tekanan inflasi bulan ini diperparah oleh penyusutan pasokan hortikultura akibat datangnya musim kemarau.
"Memasuki musim kemarau yang dimulai pada pertengahan tahun 2026 ini, kami mencatat adanya dorongan kenaikan harga pada beberapa komoditas pangan dan hortikultura akibat menipisnya pasokan di pasar. Komoditas seperti bawang merah mengalami kenaikan dengan andil 0,03 persen, bawang putih memberikan andil 0,02 persen, serta beras dan tomat yang masing-masing menyumbang andil 0,01 persen menjadi pemicu inflasi," ujar dia.
Gejolak komoditas global dan fluktuasi nilai tukar rupiah disebutnya turut andil mengerek naik harga minyak goreng kemasan dan bawang putih impor di pasar lokal.
Berdasarkan pemetaan wilayah, Kota Depok menjadi daerah dengan inflasi bulanan (mtm) tertinggi sebesar 0,42 persen, sedangkan inflasi tahunan (yoy) tertinggi dicatatkan Kabupaten Majalengka sebesar 3,40 persen, disusul Kota Bandung 3,37 persen.
"Namun selain yang menyumbang andil inflasi ada juga komoditas yang mengalami penurunan harga dan menyumbang andil deflasi yaitu daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, ikan mas dan cabai merah," kata Ari menambahkan.
Pewarta: RPGEditor : Ricky Prayoga
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.