Garut (ANTARA) - Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Garut, Jawa Barat melakukan pemetaan lahan pertanian yang rawan kekeringan menjelang musim kemarau untuk memudahkan penanganan dan meminimalisasi dampak kekeringan terhadap produksi pertanian.

"Kita sudah punya peta potensi rawan kekeringan, namun datanya belum terlalu detail, baru disampaikan di tingkat kecamatan, dan sampai saat ini laporan sementara sudah ada laporan yang terancam," kata Kepala Dispertan Kabupaten Garut Ardhy Firdian di Garut, Jumat.

Ia menuturkan, Dispertan Garut sudah menginstruksikan jajarannya untuk mengecek lahan pertanian yang selama ini menjadi daerah rawan paling cepat terdampak kekeringan saat musim kemarau.

Sampai saat ini, kata dia, baru ada laporan lahan terancam kekeringan karena sumber air dari sungai maupun menggantungkan turunnya hujan untuk kebutuhan lahan pertanian komoditas padi sudah berkurang seperti di daerah selatan.

"Kemarin laporan terancam kekeringan itu ada di daerah selatan seperti di Cibalong, Cikelet, dan Mekarmukti," katanya.

Ia menyebutkan, lahan pertanian yang terancam kekeringan itu dilaporkan sekitar 300 hektare dengan usia tanam lebih dari dua bulan atau usia padi yang sudah matang.

Namun beruntung, kata dia, saat ini cuaca di awal Mei 2026 masih terjadi turun hujan, sehingga yang tadinya terancam kekeringan bisa terselamatkan karena kebutuhan airnya tercukupi.

"Untungnya kemarin itu ada turun hujan, jadi yang tadinya sudah mulai kering, kini terbantu dengan adanya hujan, dan tidak lagi terancam kekeringan," katanya.

Ia menyebutkan, beberapa lokasi di Garut berdasarkan pemetaan dari tahun sebelumnya teridentifikasi daerah rawan kekeringan yakni di Kecamatan Cibatu, dan daerah utara lainnya, kemudian wilayah selatan.

Cuaca saat ini, kata dia, masih terjadi hujan, dan diperkirakan tahun ini musim kemarau akan lebih panjang dengan puncaknya pada Agustus 2026.

"Informasinya musim kemarau tahun ini akan lebih panjang, dengan puncak kemarau diperkirakan di Agustus 2026," katanya.

Ia berharap, musim kemarau tidak terlalu panjang dan tidak menimbulkan dampak kerugian yang besar terhadap lahan pertanian di Garut.

"Mudah-mudahan tidak terlalu panjang, dan kita juga melakukan langkah antisipasi untuk mengatasi dampak kemarau, salah satunya pompanisasi, dan pemanfaatan sumur maupun irigasi," katanya.



Pewarta: Feri Purnama
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026