Bandung (ANTARA) - Pada edisi sebelumnya, kita sudah ungkap paradoks yang biasa terjadi di negara kita pasca-Lebaran. Dimana nilai-nilai Ramadhan lambat laun pudar di tengah pragmatisme bisnis di masyaraka kita.
Menurut IMF, Indonesia adalah entitas ekonomi terbesar ke-16 di dunia secara PDB nominal dan ke-7 PPP, yang didorong konsumsi rumah tangga dan UMKM tapi terkunci tradisi riba, gharar, dan maysir.
Lalu bagaimana transisi budaya untuk mewujudkan ekonomi berkah berkelanjutan?
Transisi Budaya Menuju Sistem Ekonomi Berbasis Etika Islam
Transisi budaya merupakan proses krusial dalam mengubah pola pikir, nilai, dan kebiasaan masyarakat dari tradisi lama yang kurang sejalan dengan prinsip ekonomi Islam menuju sistem ekonomi yang beretika, adil, dan berkelanjutan.
Sebagaimana ditekankan M. Umer Chapra bahwa etika Islam menciptakan keseimbangan pasar yang adil. Proses ini bukan hanya perubahan formal atau kebijakan, melainkan transformasi mendalam yang menyentuh aspek sosial, psikologis, dan budaya masyarakat.
Baca juga: Ekonomi Berkah: Bukan Cuan Instan, Tapi Bisnis Berkelanjutan (1)
Salah satu kunci keberhasilan transisi ini adalah pendidikan dan dakwah yang terpadu dan kontekstual. Pendidikan ekonomi Islam yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mengaitkan nilai-nilai Islami dengan budaya lokal sebagai pondasi syariah, sehingga dapat membantu masyarakat memahami dan menginternalisasi prinsip-prinsip halal, keadilan, larangan riba, maysir, gharar, serta pentingnya keberkahan dalam setiap aktivitas ekonomi.
Dengan demikian, mindset masyarakat akan berangsur bergeser dari orientasi cuan atau keuntungan semata menuju keberkahan jangka panjang.
Peran lembaga sosial dan keagamaan juga penting dalam memperkuat nilai-nilai moral dan etika ekonomi Islam secara kolektif. Melalui penguatan institusi-institusi tersebut, nilai budaya positif seperti gotong royong, kejujuran, dan solidaritas sosial dapat disinergikan dengan penerapan ekonomi syariah.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa ekonomi Islam bukan hanya sistem keuangan atau bisnis, melainkan cara hidup yang terintegrasi dengan kultural masyarakat.
Strategi transformasi budaya harus pula melibatkan para tokoh budaya, agama, dan pemimpin komunitas yang memiliki pengaruh kuat dalam membentuk persepsi masyarakat. Mereka dapat menjadi agen perubahan yang mendorong adopsi praksis ekonomi syariah melalui teladan dan komunikasi efektif. Selain itu, kampanye kesadaran yang kreatif dan relevan dengan konteks lokal juga diperlukan untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Dalam konteks bisnis dan sektor keuangan, diperlukan inovasi kebijakan yang mengakomodasi karakteristik ekonomi berbasis etika Islam. Misalnya, pengembangan indikator kinerja (KPI) untuk institusi ekonomi syariah tidak hanya berorientasi pada profit semata, tetapi juga memasukkan aspek keberkahan, keadilan sosial, dan kesejahteraan umat.
Misalnya seperti yang diusulkan Yusuf al-Qardhawi dengan indikator maqasid syariah sebagai prioritas untuk mencapai maslahah. Hal ini akan menegaskan perbedaan esensial antara ekonomi syariah dan ekonomi konvensional yang selama ini sulit dipahami secara utuh oleh pelaku industri maupun masyarakat luas.
Secara keseluruhan, transisi budaya menuju ekonomi berbasis etika Islam memerlukan sinergi antara pendidikan, dakwah, kebijakan, dan peran aktif komunitas. Proses ini bersifat jangka panjang dan memerlukan komitmen bersama agar nilai-nilai Islam yang luhur dapat berakar kuat dan memperbaiki praktik ekonomi umat secara menyeluruh.
Implementasi Transformasi Budaya Ekonomi Berbasis Etika Islam
Pewarta: Luthfi Rantaprasaja *)Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026