Ciamis (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, secara bertahap memperluas penerapan sistem tanam padi organik di sejumlah area pertanian untuk menjaga lingkungan, kualitas, kesehatan dan memberikan keuntungan bagi petani.

"Kita mulai sedikit demi sedikit beralih ke organik, semata-mata untuk kesehatan masyarakat," kata Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya saat membuka Gerakan Tanam Padi Organik Tahun 2026 yang digelar Kelompok Tani Parikesit, Desa Bangunsari, Kecamatan Pamarican, Ciamis, Kamis.

Ia menuturkan Pemkab Ciamis berkomitmen bersama dengan pemangku kepentingan dan petani dalam mendorong transformasi sektor pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Kelompok Tani Parikesit, kata dia, merupakan salah satu klaster unggulan di Kabupaten Ciamis yang telah menorehkan prestasi nasional dengan meraih Juara II pada ajang Bank Indonesia Award 2025 Championship Klaster Pangan sektor tanaman pangan.

Menurut dia, penghargaan tersebut menjadi bukti nyata keberhasilan dalam pengelolaan klaster pangan yang inovatif dan berdaya saing, sehingga harus terus didukung pengembangannya.

Ia menegaskan peralihan dari penggunaan pupuk kimia menuju pupuk organik merupakan hal yang harus segera dilakukan karena berdasarkan hasil penelitian saat ini kondisi tanah di Ciamis sudah terkontaminasi bahan kimia yang berpotensi berdampak pada kualitas hasil pertanian dan kesehatan masyarakat.

"Pertanian organik ini yang kita harapkan, tanah kita sudah banyak tercampur bahan kimia, sehingga hasil pertanian pun ikut terkontaminasi," katanya.

Ia menekankan perubahan pola pertanian tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus dilakukan secara bertahap, dan keberhasilan di lapangan akan menjadi contoh untuk mendorong petani lainnya beralih ke sistem organik.

Pemkab Ciamis, kata dia, akan memberikan dukungan maksimal dalam proses peralihan sistem tanam itu, seperti bantuan bibit maupun pupuk dan menginstruksikan pemerintah desa untuk memanfaatkan tanah desa sebagai lahan percontohan pertanian organik.

Ia berharap, melalui Gerakan Tanam Padi Organik dapat mewujudkan sistem pertanian yang lebih sehat, ramah lingkungan, serta mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Sistem itu, kata dia, tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan, tapi ada nilai keuntungan ekonomi karena biaya penggunaan pupuk organik relatif lebih murah dibandingkan pupuk kimia, sementara hasil panen bisa mencapai 8 hingga 9 ton per hektare, dan harga lebih tinggi dengan pasar yang sangat luas.

"Permintaan tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri seperti Jepang, Malaysia, dan Singapura," katanya.

Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis mencatat total luas padi organik yang tersertifikasi tersebar di Kecamatan Cihaurbeuti, Pamarican, Banjarsari dan Banjaranyar seluas 54,461 hektare, dari luas total seluruh lahan padi di Ciamis tercatat 56.731 hektare.

 

 



Pewarta: Feri Purnama
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026