Bandung (ANTARA) - Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat mendesak dilakukannya evaluasi total dan pengetatan pengawasan terhadap kredibilitas perusahaan kontraktor, selepas atap SMAN 2 Gunung Putri, Kabupaten Bogor, ambruk dua pekan lalu.
Pasalnya, kata anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Aceng Malki, di Bandung, Rabu, ada temuan ketidaksesuaian spesifikasi teknis dari rancang bangun dan pondasi, sebagai pemicu utama kegagalan struktur bangunan SMAN 2 Gunung Putri itu.
Karenanya, DPRD Jabar mendesak Pemprov Jabar melakukan evaluasi dan pengetatan dalam proses penunjukan pihak ketiga oleh dinas terkait. Hal ini, guna menjamin keselamatan peserta didik, karena faktor tersebut tidak boleh dikompromikan dengan memilih kontraktor yang tidak kompeten.
"Memang benar terjadi musibah di SMAN 2 Gunung Putri yang disebabkan oleh rancang bangun dan pondasi bangunan yang tidak sesuai spesifikasi. Dinas terkait harus memilih kontraktor yang jelas dan kredibel. Pengawasannya harus ketat terkait pembangunan," kata Aceng.
Di samping itu, Aceng menekankan perbaikan harus segera dilakukan karena banyak siswa membutuhkan ruang kelas, dan langkah cepat kini menjadi pertaruhan.
Pasalnya, hingga saat ini reruntuhan bangunan belum tersentuh perbaikan, sementara kalender akademik terus berjalan.
Aceng menyebut pemerintah pusat menjanjikan pengerjaan fisik akan dimulai dalam pekan ini dengan target rampung sebelum tahun ajaran baru dimulai.
Kejadian di Gunung Putri ini juga, kata dia, menjadi alarm bagi proyek fasilitas pendidikan lainnya di Jawa Barat.
Komisi V menegaskan akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke berbagai proyek pembangunan ruang kelas baru (RKB), termasuk di wilayah Bekasi, untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
"Komisi V akan mengecek pembangunan baru di Jawa Barat untuk memastikan seluruh bangunan sudah sesuai spesifikasi," tuturnya.
Sebelumnya, dikabarkan atap bangunan SMA Negeri 2 Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ambruk pada Jumat (23/1) pagi. Peristiwa tersebut terjadi saat cuaca hujan deras yang berlangsung sejak malam hari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor menyebutkan bahwa kejadian ambruknya atap sekolah itu terjadi sekitar waktu setelah shalat subuh atau pada pagi hari.
