Kota Bandung (ANTARA) - Penulis dan peneliti sejarah Yudi Hamzah menyebut lahan yang kini menjadi Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) telah disiapkan sejak masa pemerintahan kolonial Belanda oleh Dewan Kota Bandung atau Gemeenteraad.

“Berdasarkan penelusuran arsip yang dilakukannya, Gemeenteraad pada masa itu menyiapkan lahan seluas sekitar 50 ribu meter persegi di kawasan Lembah Sungai Cikapundung untuk pembangunan taman yang kemudian berkembang menjadi kebun binatang,” kata Yudi dalam peluncuran buku berjudul “Taman Menjadi Kebun Binatang” di Bandung, Rabu.

Yudi menjelaskan informasi tersebut tercantum dalam surat kabar Preanger Bode edisi khusus peringatan 25 tahun Kota Bandung yang terbit pada 1 April 1931. 

Dalam artikel itu dijelaskan rencana pembangunan taman, alasan pemilihan lokasi, hingga biaya pembangunan yang awalnya direncanakan sebesar 25 ribu gulden dan kemudian disetujui menjadi 18 ribu gulden.

“Semua data ini saya susun dari arsip koran, surat kabar, dan majalah pada masa tersebut. Mudah-mudahan buku ini bisa membuat sejarah kebun binatang di Bandung menjadi lebih terang dan jelas,” kata Yudi.

Dalam bukunya, Yudi mengungkapkan bahwa Kebun Binatang Bandung yang berdiri sekarang bukanlah kebun binatang pertama di Kota Bandung. Sebelumnya, terdapat kebun binatang di kawasan Dago dan Cimindi yang telah beroperasi lebih dulu.

“Namun karena berbagai permasalahan, kedua kebun binatang tersebut akhirnya tutup. Dari situlah muncul inisiatif masyarakat Bandung dari berbagai kalangan untuk mendirikan Bandung Zoological Society,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dengan dana sekitar 2.000 gulden, kebun binatang Cimindi dibeli agar Bandung tetap memiliki kebun binatang. Sebagian area Taman Jubileum Park kemudian dialihfungsikan menjadi kebun binatang, dengan memindahkan satwa-satwa dari Cimindi dan Dago ke lokasi tersebut.

Yudi juga memaparkan bahwa sejak awal Kebun Binatang Bandung tidak dikelola secara perorangan, melainkan oleh sebuah lembaga atau yayasan swasta sejak 1933.

Ia berharap buku tersebut dapat menjadi referensi baru bagi masyarakat Bandung karena disusun berdasarkan data faktual, bukan sekadar cerita lisan. 

Sekitar seratus arsip koran, sejumlah foto, serta artikel ilmiah digunakan sebagai sumber penulisan, dengan mayoritas berasal dari periode 1928 hingga 1957.

Menurut dia, data terkuat justru menunjukkan kebun binatang pertama di Bandung berada di kawasan Dago pada 1928. Berdasarkan iklan dan pemberitaan surat kabar, kebun binatang Dago telah beroperasi secara komersial sejak akhir 1928 atau awal 1929, dengan koleksi satwa seperti ular, gajah, dan harimau.

Lokasi kebun binatang tersebut diperkirakan berada di seberang pintu masuk Dago Tea House hingga ke arah Cipaganti dan Cipahut, kawasan yang pada masa itu masih berupa hutan namun telah terdapat sejumlah kampung tua.



Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026