Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin sore ditutup mencetak rekor tertinggi sepanjang masa atau All Time High (ATH) ditopang oleh pengocokan ulang (rebalancing) indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
IHSG ditutup menguat 155,90 atau 1,85 persen ke posisi 8.570,25. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 17,67 poin atau 2,09 persen ke posisi 863,35.
“Penguatan IHSG ini ditopang oleh rebalancing MSCI November 2025 yang berlaku efektif pada 25 November 2025,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Dari dalam negeri, pemerintah bersama otoritas pasar modal tengah melakukan kajian mendalam untuk menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Demutualisasi Bursa Efek, yang merupakan mandat dari Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
RPP Demutualisasi akan menjadi dasar perubahan besar struktur kelembagaan BEI, dari yang selama ini bursa dimiliki sepenuhnya oleh anggota bursa, akan menjadi perseroan yang kepemilikannya dapat dimiliki lebih luas, sehingga akan terjadi pemisahan antara status keanggotaan dan kepemilikan saham BEI.
Transformasi ini diharapkan akan membuat bursa memperkuat tata kelola dan meningkatkan likuiditas perdagangan.
Dari mancanegara, pelaku pasar akan menantikan kelanjutan dirilisnya data ekonomi yang sempat tertunda akibat adanya government shutdown Amerika Serikat (AS) beberapa waktu lalu.
Producer Price Index (PPI) Index AS bulan September 2025 diperkirakan sebesar 0,5 persen dari deflasi 0,1 persen di Agustus 2025. Sedangkan retail sales bulan September 2025 diperkirakan melambat menjadi 0,3 persen month to mont (mtm) dari 0,6 persen (mtm) di Agustus 2025.
Pewarta: Muhammad HeriyantoEditor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA 2026