Jakarta (ANTARA) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu bergerak menguat di tengah pelaku pasar mencermati data inflasi dan manufaktur Indonesia periode September 2025.
IHSG dibuka menguat 8,88 poin atau 0,11 persen ke posisi 8.069,94. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 1,41 poin atau 0,18 persen ke posisi 792,57.
"IHSG berpotensi teknikal rebound hari ini, jika kuat bertahan di support 8.000,” ujar Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan rilis data-data ekonomi domestik, di antaranya data inflasi dan purchasing managers' index (PMI) Manufaktur periode September 2025, serta data neraca perdagangan periode Agustus 2025.
Pada Agustus 2025 tercatat deflasi 0,08 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dengan inflasi tahunan 2,31 persen (year-on-year/yoy), dan data PMI Manufaktur Agustus 2025 di level 51,5, sementara neraca perdagangan tercatat surplus 23,65 miliar dolar AS pada Juli 2025.
Dari mancanegara, pemerintah federal Amerika Serikat (AS) diperkirakan kehabisan pendanaan. Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ada yang tidak terelakkan, namun kemungkinan shutdown (penutupan) tetap besar.
Ketua DPR AS Mike Johnson yang berasal dari Partai Republik, menyatakan skeptis bahwa kesepakatan dapat tercapai tepat waktu. Dirinya menyebut keputusan ada di tangan pimpinan minoritas Senat Chuck Schumer dan pimpinan minoritas DPR Hakeem Jeffries (keduanya dari Partai Demokrat).
Sementara itu, Jeffries justru menuding Partai Republik sebagai pihak yang bertanggung jawab apabila shutdown pemerintah AS benar-benar terjadi.
Pewarta: Muhammad HeriyantoEditor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA 2026