Antarajabar.com - Polres Cianjur, Jawa Barat, masih mencari keberadaan kernet bus Kitrans yang tidak tercatat sebagai pasien di RSUD Cimacan, untuk dimintai keterangannya terkait kecelakaan beruntun yang merengut belasan nyawa tersebut.
        
Kasatlantas Polres Cianjur, AKP R Erik Bangun Prakasa di Cianjur, Selasa, mengatakan, data kernet bus tidak ditemukan pihaknya termasuk di rumah sakit, sehingga akan dilakukan pencarian terhadap kernet bus tersebut karena supir sebagai tersangka dalam peristiwa tersebut meninggal dunia.
        
"Kami membutuhkan keterangan kernet sebagai saksi karena mengetahui penyebab sebelum terjadinya tabrakan beruntun. Kami tidak menemukan nama dan data kernet sejak dari lokasi sampai ke rumah sakit," katanya.
        
Dia menjelaskan, dalam kasus kecelakaan tersebut, pemilik atau pengelola bus dapat dijerat sebagai tersangka karena mengabaikan keamanan karena tetap mengoperasikan armada yang tidak layak jalan serta melakukan pemalsuan dokumen kendaraan.
        
"Kita bisa menjerat pengurus dengan pasal berlapis karena kelalaian dan pemalsuan dokumen yang tidak seharusnya, dimana dokumen yang ada di dalam bus diperuntukan untuk truk box bukan utuk bus. Bahkan surat kelayakan sudah tidak berlaku sejak akhir tahun lalu," katanya.
        
Sementara berdasarkan keterangan sejumlah saksi penumpang bus, sempat melayangkan protes terhadap supir karena bus yang akan mereka gunakan secara kasat mata sudah tidak layak jalan.
        
"Sebelum naik ke dalam bus, beberapa orang penumpang sempat protes karena bus yang datang sudah terlihat tidak layak jalan," kata Jhonson (38) seorang korban penumpang bus.
        
Bahkan tuduhan penumpang terbukti dengan laju bus yang tidak ada tenaga saat berada di Jalan Tol Jagorawi dan ketika memasuki jalan menanjak di wilayah Puncak. Namun supir seakan tidak mendengarkan keluhan penumpang sejak berangkat hingga akhirnya bus mengalami rem blong.
        
"Saat melaju di Tol Jagorawi saya sempat bertanya, apakah bus kuat sampai ke Kebun Raya Cibodas karena di jalan lurus saja, sudah tidak ada tenaga. Saat memasuki jalur Puncak, laju bus seperti truk bermuatan penuh tidak ada tenaga, namun ketika itu supir meyakinkan bus masih bisa sampai lokasi," katanya.


    



Pewarta: Ahmad Fikri
: Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026