Wakil Bupati Purwakarta Dudung Supardi, Selasa mengatakan, rumah kebun tersebut rencananya dibangun di atas lahan seluas 1.000 hektare di tepi kiri dan kanan jalan tol.
"Pemerintah Kabupaten Purwakarta menyambut baik rencana tersebut karena akan menambah semarak pembangunan di Purwakarta," katanya sesaat sebelum upacara puncak HUT Kemerdekaan RI ke-65 di Purwakarta.
Ia menjelaskan bahwa kasawan Gununghejo yang telah "dibidik" investor itu berupa lahan terbuka dengan berbagai tumbuhan yang selama ini menjadi pemandangan sehari-hari bagi pengguna jalan tol Cipularang.
Kawasan tersebut juga berada di daerah perbatasan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Bandung Barat.
Rencananya, menurut Dudung, di atas lahah seluas 1.000 hektare itu akan dibangun kompleks perumahan dengan perpaduan kondisi alam berupa lahan kebun, sebagai tempat persingahan di tepi jalan tol.
Akan tetapi, kata dia, Pemerintah Kabupaten Purwakarta meminta dari areal seluas 1.000 hektare tesebut hanya 300 hektare yang diperuntukan kawasan perumahan, sedang selebihnya yakni seluas 700 hektare harus dijadikan lahan terbuka berupa kebun/hutan yang menghampar hijau.
"Sudah diarahkan seperti itu sehingga keberadaan kawasan rumah kebun, betul-betul merupakan perpaduan rumah dengan kebun. Bukan rumah menghilangkan kebun," tambah Dudung.
Akan tetapi, wakil bupati Purwakarta itu tidak menyebutkan investor mana yang akan membangun rumah kebun di tepi jala tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang) tersebut.
Demikian juga dengan besaran investasi yang akan ditanam untuk pembangunan proyek itu, juga tidak disebutkannya.
Menurut dia, dari aspek ekonomi pembangunan rumah kebun cukup menguntungkan bagi warga setempat, terlebih bagi para pemilik lahan yang akan melakukan transaksi degan investor untuk pembebasan lahan.
"Lahan 1.000 hektare itu bukan jumlah sedikit, dan berapa banyak pula uang hasil pembebasan tanahnya," kata Dudung.
Adjat S
Editor : Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026