Bekasi, 6/4 (ANTARA) - Kawasan Jalan Kartini, Kota Bekasi, Jawa Barat, akan dijadikan pusat jajanan malam yang menyediakan aneka makanan dan minuman bagi warga kota setempat yang beraktivitas pada malam hingga pagi hari.
Kepala Bidang Pedagang Kaki Lima, Dinas Perekonomian Rakyat Kota Bekasi, Aom Jamhur di Bekasi, Selasa, mengatakan, pihaknya telah menjalin kerja sama dengan pemilik tanah seluas kurang lebih satu hektare untuk mewujudkan rencana tersebut.
"Jalan Kartini lokasinya sangat strategis dan mudah dicapai. Kita ingin warga yang beraktivitas pada malam hari bisa mendapatkan aneka makanan yang disukai," ujarnya.
Konsumen pusat jajanan malam itu juga diharapkan datang dari Kota Jakarta. Nantinya akan disediakan berbagai masakan khas daerah sebagai daya tarik bagi warga dari daerah tetangga.
Selain itu juga akan dibangun pusat wisata kuliner nusantara di kawasan Kota Harapan Indah, katanya.
Di lokasi itu nantinya seluruh masakan nusantara yang disajikan koki terlatih tersedia untuk dinikmati penunjung, baik untuk kelas atas maupun menengah bawah.
Pusat jajanan itu nantinya akan menempati areal dua hektare dilengkapi tempat mainan anak, areal pemancingan dan musik hidup.
Pembangunan pusat jajanan bekerja sama dengan investor yang peduli dalam menyediakan sarana untuk kuliner bagi pedagang kaki lima dan pedagang besar.
Pangsa pasar dari pusat jajanan ini adalah warga Kota Jakarta dan Jabodetabek umumnya yang biasanya pergi ke Bandung untuk menikmati aneka makanan tersebut.
Promosi keberadaan pusat jajanan tersebut dilakukan dengan menggunakan media elektronik berupa stasiun TV sehingga bisa menjangkau seluruh warga Jakarta dan Jabodetabek.
Aom mengatakan, ratusan pedagang kaki lima dan restoran yang biasa menyediakan makanan khas daerah siap menempati lokasi jajanan tersebut.
Pengembang sudah menyatakan akan memungut sewa yang terjangkau sebagai bentuk komitmen dalam menyediakan sarana jajanan yang menjadi ikon Kota Bekasi.
"Kita sudah sampaikan konsepnya bukan untuk mencari keuntungan tapi lebih pada penataan dan pengendalian pedagang serta menyediakan sarana masakan lengkap di satu tempat," ujarnya.
Pembangunan pusat jajanan tersebut tidak menggunakan dana APBD melainkan murni dari swasta sementara pemerintah daerah hanya memfasilitasi dan melakukan pengawasan.
Maswandi
