Garut, 19/3 (ANTARA) - Taruna Siaga Bencana (Tagana) di kabupaten Garut, meski keberadaannya selama ini dirasakan manfaatnya oleh para korban bencana alam, namun institusi tersebut masih belum memiliki sarana sekretariat.
Sehingga kerap menyulitkan setiap hendak melaksanakan koordinasi termasuk konsolidasi organisasinya, kata Koordinator Tagana kabupaten setempat, Fajar Hendarsyah, SH, Jumat.
Dia mengatakan, di daerahnya sekurangnya terdapat 58 personil Tagana, yang sering dirasakan masih kurang dibandingkan dengan kondisi 60 persen dari 306.519 hektare wilayah kabupaten Garut, Jabar, berkondisi rawan longsor, pada 42 wilayah kecamatan yang dihuni 2.380.981 penduduk.
Tetapi institusi yang dinaungi Dinas Sosial, Tenaga kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) kabupaten Garut itu, juga sering dihadapkan pada masalah masih relatif minimnya sarana pendukung operasional termasuk jaminan kesejahteraan mereka, katanya.
Padahal setiap terjadi bencana, sering merangkap sebagai pemikul bahan makanan kebutuhan pokok para pengungsi, melintasi ruas jalan setapak atau jalan yang terputus sehingga tidak bisa dilewati berbagai jenis kendaraan apapun.
Selama ini Tagana setiap memulai operasionalnya, hanya bisa berkumpul di halaman depan kantor Dinsosnakertrans dalam melakukan koordinasi dan penyusunan prosedur operasional, karena seluruh ruangan di perkantoran tersebut telah penuh.
Maupun tidak terdapat satu ruangan pun, yang kosong untuk bisa dijadikan sekretariat Tagana, ungkap Fajar Hendarsyah, menambahkan.
John DH