Bandung (Antaranews Jabar) - Tim Satgas Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk bencana gempa bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat kembali melakukan survei kebutuhan air baku di beberapa posko pengungsian.

Survei ini dilakukan sebelum tim melakukan pengeboran air untuk kebutuhan pengungsi.

Direktorat Humas dan Publikasi ITB, dalam siaran persnya, Rabu menyatakan, survei dipimpin langsung oleh Dr Bagus Endar dari Kelompok Keahlian Fisika Bumi dan Sistem Kompleks ITB selama dua hari yakni dari tanggal 25-26 Agustus 2018.

Survei ini merupakakan lanjutan dari survei-survei sebelumnya.

Dr Bagus mengatakan air baku menjadi masalah serius di daerah terdampak gempa di Lombok, terutama di daerah Kabupaten Lombok Utara yang dekat dengan pusat gempa dan paling parah mengalami kerusakan.

Para pengungsi gempa Lombok, kata dia, saat ini sedang kesulitan mendapat air baku karena letak posko pengungsian yang jauh dari sumber air. Kalaupun ada sumur, belum tentu airnya juga ada.

"Jadi di Lombok Utara ini terutama kondisi geologisnya itu terdiri dari pasir yang lepas, vulkanik dari gunung berapi. Kemudian dia terbenam oleh air karena terkena getaran. Pasirnya seolah-olah jadi cairan dan naik ke atas, mengakibatkan sumur-sumur menjadi dangkal, memenuhi sumur sampai ke muka air tanah," kata dia.

Ia mengatakan saat survei, lokasi yang dipilih yaitu di daerah Pemenang, Tanjung, Selat, Gangga, dan sekitarnya.

Lokasi sumur di tiap daerah lalu dicari dan dilihat posisinya dan sumur yang masih memiliki air, diperiksa kualitas airnya seperti tingkat keasaman atau PH, tingkat kehantaran listrik atau konduktifitas, kolom air, dan suhu.

"Pemeriksaan PH air sendiri menggunakan alat PH Meter," katanya.

Air dikatakan memiliki PH yang baik dan bisa digunakan sebagai sumber air minum jika berada pada PH seimbang yaitu sekitar PH 7.

Sementara konduktifitas diperiksa untuk melihat seberapa asin air sumur tersebut. Sedangkan kolom air diperiksa untuk melihat jumlah air yang masih bisa dipakai.

Menurut dia daerah yang kekurangan air akan dibantu dengan pembuatan sumur bor. Pembuatan sumur bor sudah mulai dilakukan sejak Senin (27/8).

Pengeboran tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama pada tiap sumur karena beberapa daerah mempunyai kondisi tanah berbeda.

"Ada beberapa kondisi geologis yang agak beda. Bagian sisi barat ke arah Tanjung dan Kayangan itu pasir lepasnya luar biasa, tapi kalau Pemenang ke arah selatan dan timur beda lagi perlakuannya. Kalau di atas pegunungan itu dia sumurnya lebih dalam dan lapisannya lebih keras," katanya.

Untuk menghadapi perbedaan lapisan tanah ini, bor sepanjang dua meter tiap ruas dengan ukuran core barrel yang beragam dari 1 inci hingga 3,5 inci disiapkan.

Mata bor pun beragam tergantung seberapa keras tanah yang akan dibor. Diharapkanan pengeboran bisa meberdayakan tenaga masyarakat.

"Kita akan suplai tenaga ahlinya tapi kita akan coba melibatkan masyarakat sekitar karena kemungkinan besar mereka juga kehilangan mata pencaharian," ujar Dr Bagus Endar.


 

Pewarta: ASJ

Editor : Ajat Sudrajat


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2018