Bandung (Antaranews Jabar) - Tim peneliti dari kalangan dosen Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung berhasil mengembangkan pemanis alami buatan dari daun Stevia.

Pemanis alami buatan tersebut merupakan bagian penelitian dengan topik "Pengembangan Proses Produksi Pemanis Alami Glikosida Steviol (Stevia) dari Daun Tanaman Stevia" yang melibatkan tim peneliti terdiri atas Dr.rer.nat. Rahmana Emran Kartasasmita, M.Si,. Apt., Dr. Elfahmi, M.Si., Apt., Dr. Muhammad Insanu, M.Si., Apt., dan Dr. As?ari Nawawi, M.Si., Apt.

Salah satu peneliti, Rahmana Emran Kartasasmita, dalam siaran pers Direktorat Humas dan Publikasi ITB di Bandung, Selasa, mengatakan daun dan herba tanaman Stevia mengandung senyawa yang memiliki rasa manis (glikosida steviol atau GS) dengan kadar cukup tinggi.?

Kemanisan senyawa GS mencapai 300 kali lipat dari gula, sehingga GS yang diperoleh melalui ektraksi daun dan herba tanaman Stevia itu, katanya, banyak digunakan sebagai pemanis alami penyubstitusi gula, khususnya bagi yang memerlukan asupan kalori rendah.

Ia mengatakan GS sebagai pemanis alami sudah lama digunakan dan dinyatakan aman oleh Codex Alimentarius Commission (CAC) sebagai organisasi international di bawah FAO dan WHO yang mengeluarkan berbagai standar dalam bidang pangan.

Namun, di Indonesia, pemanis alami tersebut masih sepenuhnya diimpor. Padahal tanaman bernama latin Stevia rebaudiana Bertoni itu bisa hidup dan cocok untuk ditanam di dataran tinggi di Indonesia, seperti di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung.

Sampai sekarang, belum ada satu pun industri di Indonesia yang melakukan ekstraksi daun Stevia dan memproduksi GS sebagai pemanis alami pada skala komersial.

Rahmana menuturkan sebagai pemanis intensitas tinggi (high intense sweetener), GS memiliki tingkat kemanisan yang tinggi, sehingga pada kadar rendah sudah mampu memberikan rasa manis yang memadai.

Sebagai ilustrasi, kata dia, untuk memaniskan satu cangkir minuman, cukup digunakan 30?40 mg GS yang lazimnya digunakan dalam bentuk saset.

Keunggulan lainnya, GS tidak memiliki nilai kalori sehingga tidak akan menyebabkan kenaikan gula darah setelah dikonsumsi.

Oleh karena itu, kata dia, pemanis alami itu sesuai digunakan oleh penderita diabetes maupun yang memerlukan asupan kalori rendah, seperti yang sedang melakukan diet rendah kalori.

Rahmana menjelaskan penelitian oleh timnya dimulai sejak 2012. Namun, pada tahun tersebut, masih dilaksanakan dalam skala laboratorium.

Pada 2015, tim mendapatkan dana penelitian dari Kementerian Kesehatan melalui Program Fasilitasi Pengembangan Bahan Baku Obat (BBO) dan Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT).

"Berkat pendanaan tersebut, penelitian dapat dilakukan pada skala yang lebih besar dengan menggandeng PT Kimia Farma sebagai industri mitra," kata dia.

Dengan melihat banyaknya manfaat pemanis Stevia, baik dari segi ekonomi maupun kesehatan, ia berharap GS bisa diproduksi dari Stevia yang ditanam di Indonesia.

Dari segi regulasi di Indonesia, GS sudah diizinkan untuk digunakan pada berbagai produk pangan berdasarkan Perka BPOM sejak 2014.

"Kami sebagai tim peneliti menginginkan pemanis alami GS dapat diproduksi di Indonesia sehingga tidak perlu impor, mengingat tanaman Stevia sebagai bahan bakunya cocok ditanam di Indonesia, khususnya di daerah Ciwidey," kata dia.

Ia menjelaskan setiap hektare lahan bisa ditanami sekitar 50 ribu bibit dengan kapasitas produksi 12 ton daun basah per tahun dengan 12 kali panen atau setara dengan 1,2 ton daun kering.

Berdasarkan analisis, kandungan total GS dari dalam daun Stevia kering minimum sekitar 10 persen sehingga 1,2 ton daun kering akan menghasilakn 120 kg pemanis Stevia dalam satu tahun.

Saat ini, lanjut dia, estimasi kebutuhan tahunan Stevia di Indonesia sekitar 350 ton. Bila 10 persen dari kebutuhan tersebut atau 35 ton per tahun akan diproduksi di Indonesia, diperlukan lahan tanaman Stevia seluas 292 hektare (35.000,00 kg/tahun/120 kg/tahun/hektare).

Saat ini hanya beberapa hektare lahan yang ditanami Stevia di daerah Ciwidey akan tetapi pemda setempat akan memberikan dukungan untuk menjadikan Stevia sebagai unggulan daerah dan akan memfasilitasi penyediaan lahan, bila Stevia akan ditanam pada skala besar untuk mendukung industri yang memproduksi GS sebagai pemanis alami.

"Sepanjang yang saya ketahui, di daerah Ciwidey, jika ingin menanam Stevia dalam skala komersial banyak lahan-lahan yang bisa disewa," kata dia.

Saat ini di daerah tersebut sudah ada tanaman Stevia, akan tetapi karena belum ada industri yang membutuhkan dalam kuantitas besar, petani belum tertarik untuk menanam pada lahan yang luas. Daun stevia yang dihasilkan dari lahan yang ada saat ini, baru dikeringkan dan dijual sebagai daun Stevia kering oleh petani.

Stevia masuk family asteracaeae (compositae). Tanaman itu berbentuk perdu dengan tinggi 60-90 cm, bercabang banyak, berdaun tebal hijau, dan berbentuk lonjong memanjang, batang kecil dan berbulu.

Ekstraksi

Menurut Rahmana Emran, proses ekstraksi daun Stevia tidak sulit, yakni daun hasil panen yang telah dipetik petani kemudian disortir dan dikeringkan terlebih dahulu.

Setelah kering lalu dirontokkan daunnya dari tangkai, dilanjutkan proses penghancuran menggunakan mesin agar lebih halus berbentuk bubuk.

Selanjutnya proses ekstraksi dengan berbagai teknik, ada yang menggunakan air terlebih dahulu atau pelarut lain yang diizinkan untuk pengolahan pangan.

Selanjutnya proses pemurnian dan pengkristalan menjadi serbuk GS yang berwarna putih.

"Semua hasil penelitian ini sudah dilaporkan dan diserahkan ke Kementerian Kesehatan sebagai pemberi dana. Untuk tindak lanjut produksi Stevia pada skala komersial, Kementerian Kesehatan akan memfasilitasi bila ada industri yang berminat. Oleh sebab itu, kami berharap ada industri yang berminat dan bisa menindaklanjuti hasil penelitian ini," kata dia.


 

Pewarta: ASJ

Editor : Ajat Sudrajat


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2018