Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Daddy Rohanady mengusulkan agar perbaikan tembok penahan tanah (TPT) Sungai Ciberes dipercepat sebagai salah satu cara untuk mengurangi potensi banjir di Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, Jabar.
Daddy saat dikonfirmasi di Cirebon, Jumat, mengatakan persoalan banjir menjadi keluhan utama masyarakat yang ditemuinya setiap melakukan reses maupun kegiatan kedinasan di wilayah tersebut.
Ia menyebutkan Desa Gunungsari di Kecamatan Waled sebagai contoh wilayah paling rentan, karena dalam satu tahun desa tersebut pernah mengalami banjir hingga 38 kali.
“Desa Gunungsari, salah satu desa dari beberapa desa di Kecamatan Waled, merupakan langganan banjir,” katanya.
Menurut dia, situasi tersebut menunjukkan perlunya intervensi struktural yang lebih serius, salah satunya terkait TPT yang saat ini tidak memadai untuk menahan peningkatan debit air saat hujan deras.
Daddy menjelaskan salah satu faktor penyebab banjir adalah penanganan TPT yang tidak tepat, karena belum dilengkapi tanggul sebagaimana kebutuhan di lapangan.
Selain itu, ia menyoroti persoalan sedimentasi Sungai Ciberes dan material hasil pengerukan atau normalisasi, yang biasanya hanya ditumpuk di tepian sungai.
Tumpukan tersebut, kata dia, mudah kembali masuk ke badan sungai saat hujan mengguyur kawasan Waled sehingga membuat upaya normalisasi tidak efektif.
“Hasil akhirnya mudah ditebak. Lumpur itu kembali masuk sungai ketika diguyur hujan,” katanya.
Daddy menegaskan penanganan Sungai Ciberes, termasuk perbaikan TPT, merupakan kewenangan dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) setempat.
Ia mengaku sudah bertahun-tahun mengusulkan pembangunan dan perbaikan TPT secara serius, namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang signifikan.
Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan langkah konkret, guna mengurangi risiko banjir bagi warga di Kecamatan Waled, Cirebon.
Perbaikan TPT, lanjut Daddy, menjadi bagian penting dari upaya pencegahan banjir yang bisa memberi dampak langsung bagi keselamatan dan aktivitas masyarakat.
“Ini sudah lama saya sampaikan. Sampai sekarang belum juga ditangani,” katanya.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon mencatat 1.164 rumah warga terdampak banjir yang melanda Desa Gunungsari dan Mekarsari di Kecamatan Waled pada Rabu (19/11) malam, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Cirebon Ikin Asikin mengatakan luapan Sungai Ciberes dipicu oleh curah hujan tinggi, sedimentasi, serta penyempitan aliran pada anak sungai sehingga air mengalir ke permukiman warga.
Selain merendam ribuan rumah, pihaknya mendata peristiwa banjir juga berdampak pada sembilan rumah ibadah dan empat sarana pendidikan, serta menggenangi sekitar 100 hektare lahan sawah.
“Total 3.724 jiwa terdampak, dan 29 orang di antaranya terpaksa mengungsi,” ujarnya.
BPBD Kabupaten Cirebon telah merekomendasikan langkah lanjutan berupa rehabilitasi kawasan hutan, peninjauan tata ruang berbasis pengurangan risiko bencana, normalisasi sungai dari hulu hingga hilir, serta perbaikan TPT yang rusak.
Kepala BBWS Cimanuk-Cisanggarung Dwi Agus Kuncoro menyampaikan pihaknya menyiapkan dua langkah untuk mengurangi risiko banjir di Desa Mekarsari dan Gunungsari, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon.
Ia menjelaskan solusi pertama adalah pemasangan tiga pintu klep di tiga titik rawan banjir, dan kini pihaknya akan melakukan pengukuran untuk menentukan spesifikasi, sebelum proses pemasangan dilaksanakan.
“Dipastikan secepatnya. Paling lambat awal 2026, karena pintunya harus dipesan sesuai dimensinya,” ujarnya.
Selain pintu air, pihaknya menyiapkan pembangunan sodetan sepanjang 1,5 km di kawasan Sungai Ciberes.
Ia menilai sodetan tersebut diharapkan dapat memecah konsentrasi aliran air yang sebelumnya langsung mengarah ke Desa Mekarsari, sehingga mengurangi tinggi dan durasi genangan.
“Kalau tanahnya sudah clear, BBWS akan segera mengarahkan alat berat,” katanya.
Editor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2025