Pemerintah Kota Bandung terus mengoptimalkan gerakan satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik) sebagai upaya mencegah penyebaran kasus demam berdarah dengue (DBD).
Sekretaris Daerah Kota Bandung Iskandar Zulkarnain mengatakan demam berdarah dengue merupakan penyakit endemis yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti dengan membawa virus pada tiap gigitan.
“Kami tidak ingin ada lagi nyawa direnggut virus dengue. Pencegahan harus dimulai sekarang, sebelum musim hujan tiba. Jangan tunggu,” kata Zulkarnain di Bandung, Rabu.
Zulkarnain mengatakan pihaknya telah mengerahkan kader posyandu untuk ikut memantau secara berkala jentik nyamuk di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya, terutama di tempat-tempat yang biasa menjadi sarang nyamuk seperti bak mandi dan genangan air.
“Kita dorong tiap rumah punya satu Jumantik aktif. Para lurah dan camat harus menggerakkan kader posyandu dan PKK agar penyuluhan terus berjalan,”
Ia juga menegaskan bahwa DBD masih menjadi ancaman kesehatan utama, terutama bagi anak-anak dan lansia.
“Gerakan satu rumah satu jumantik saat ini berfokus kepada komunikasi, informasi dan edukasi kepada warga untuk menekan DBD,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Anhar Hadian mengatakan gerakan satu rumah satu jumantik adalah sebuah program yang mendorong setiap rumah tangga untuk menekan perkembangbiakan nyamuk.
“Kami dorong gerakan satu rumah satu jumantik. Jangan hanya mengandalkan petugas puskesmas. Di kantor-kantor juga perlu ada petugas khusus untuk memeriksa jentik nyamuk,” kata Anhar.
Anhar mengungkapkan gerakan jumantik ini diharapkan dapat menekan kasus DBD di Kota Bandung yang telah mencapai 1.653 kasus selama periode Januari hingga Mei 2025.
Ia menjelaskan penyebab tingginya jumlah orang terserang penyakit DBD karena salah satunya yaitu kemarau panjang yang menyebabkan nyamuk aedes aegypti bertelur dengan baik dan menetas saat musim hujan.
“Ketika memasuki musim hujan membuat permukaan air naik, jadi telur yang menempel di dinding itu sekarang teredam air. Telur tersebut menetas jadi nyamuk aedes aegypti dewasa yang menjadi penular virus dengue,” kata Anhar.
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2025