"Di sini mah enak, selain mondok kita juga diajarin buat berwirausaha, bertani di ladang. Mudah-mudahan bisa jadi petani sukses beres mondok dari sini," ujar Andi, salah seorang santri di Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Kampung Ciburial, Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.
 
Di pondok pesantren yang berdiri sejak 1934 dan didirikan oleh KH Mansyur ini, Andi beserta para santri lainnya dibekali ilmu wirausaha selain ilmu agama.

Pesantren ini memanfaatkan potensi alam di Kawasan Rancabali, Ciwidey yang sejuk sebagai "laboratorium" para santri untuk mempraktikkan ilmu wirausahanya dengan menanam sayur mayur.

Perlahan tapi pasti, aktivitas wirausaha di bidang pertanian oleh pondok pesantren bersama dengan para santri berjalan.

Hampir 30 tahun, aktivitas agribisnis yang dilakukan para santri di sini telah mampu menyuplai produk sayur-mayur dataran tinggi seperti wortel, buncis, kentang tomat, cabai dan lain-lain ke pasar-pasar modern di Bandung hingga ke luar wilayah Bandung.

Tak hanya santri, Pondok Pesantren Al-Ittifaq juga merangkul kelompok tani sekitar bahkan hingga luar pesantren.

Saat ini unit wirausaha agrobisnis pesantren ini telah menjadi koperasi dan dipimpin oleh A Setia Irawan.

Berkat prestasi yang ditorehkan oleh pesantren ini maka pada 12 Desember 2018, Gubernur Jawa Barat (Jabar) M Ridwan Kamil atau Emil memilih Pesantren Al-Ittifaq sebagai salah satu "role model" untuk Program Pesantren Juara.

Program Pesantren Juara merupakan salah satu program andalan yang digagas oleh Pemprov Jabar yang di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil dan Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum dengan tujuan menjadikan dan menghadirkan pesantren yang produktif dan mandiri secara ekonomi serta mengedukasi santri agar inovatif-kreatif.

Pembuktian

Ketua Koperasi Pondok Pesantren Al-Ittifaq, A Setia Irawan mengakui bahwa selama ini banyak pihak yang menilai pondok pesantren tidak bisa mandiri atau berinovasi karena terlalu fokus belajar ilmu agama Islam.

"Orang pasti berkata (belajar) di pesantren itu enggak bisa apa-apa, hanya fokus belajar ilmu agama, tidak bisa menguasai ilmu ekonomi," ujar Irawan.

Namun, kata dia, Pondok Pesantren Al-Ittifaq ingin menepis anggapan tersebut dan membuktikan bahwa pesantren bisa mandiri serta memberdayakan lingkungan sekitarnya.

Unit usaha agrobisnis yang digagas oleh Al-Ittifaq, kata Permana, ternyata sejalan dengan Program Pesantren Juara yang didalamnya terdapat terdapat One Pesantren One Product (OPOP).

"Saya melihat konsep ini bisa meningkatkan kemandiran pesantren karena selama ini, pesantren selalu dikatakan nggak bisa apa-apa, tidak bisa menguasai ekonomi, hanya belajar agama saja," kata dia.

Dia mengatakan Al-Ittifaq membagi para petani binaannya dalam sembilan kelompok tani yang terdiri dari 270 orang petani binaan dengan 130 hektare lahan garapan.

Semua petaninya ialah para santri dan lulusan Al-Ittifaq sehingga sistem pola tanam dan budi daya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan.

Selain itu, pihaknya mengimplementasikan budaya pesantren dalam mengelola unit usaha agrobisnisnya yakni santri atau petani harus patuh dan mengikuti apa yang dikatakan kiai di pondok pesantren.

Pesantren Al-Ittifaq juga diberi kepercayaan oleh Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Barat untuk menyeleksi sejumlah pesantran dalam Program Pesanten Juara.

Tak pelit

Rasulullah SAW bersabda "Khairunnas Anfa'uhum Linnas (sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak manfaat untuk yang lain).

Hal tersebut menjadi pegangan Al-Ittifaq untuk tidak pelit dalam membagikan keberhasilan di bidang agrobisnis atau pertanian kepada pesantren lainnya.

Sebelum Pemprov Jabar menggagas Program Pesantren Juara yang didalamnya ada "OPOP", Al-Ittifaq ternyata sudah menjadi pusat pelatihan pertanian berbasis pesantren bagi masyarakat Jawa Barat, bahkan bagi daerah lain di seluruh Indonesia.

"Alhamdulillah selama ini kami memang sudah membuat kelas-kelas pertanian. Kami juga berbagai ilmu dengan pesantren lainnya. Salah satunya dengan Pesantren Najaatin, Kabupaten Cianjur. Alhamdulillah mereka sekarang berhasil membudidayakan butternut pumpkin atau labu kuning madu. Produk ini menjadi andalan mereka untuk ikut dalam OPOP," kata dia.

Irawan optimistis Program Pesantren Juara yang didalamnya ada "One Pesantren One Product" bisa membuktikan eksistensi pondok pesantren di Jawa Barat bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan  yang ramah zaman, bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan dan menjawab tantangan, khususnya di bidang ekonomi.

Tingkatkan ekonomi umat 

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil menyatakan Pemprov Jabar saat ini tidak hanya fokus pada pembangunan yang bersifat lahiriah seperti infrastruktur, tetapi juga pembangunan yang bersifat batiniah. 

Hal tersebut, kata dia, terwujud dalam visi Jabar Juara Lahir Batin. 

"Pemprov Jabar kini tidak hanya membangun dimensi lahiriah saja, tetapi juga membangun dimensi batiniah," kata Gubernur Emil, sapaan Ridwan Kamil—saat memberi kuliah umum di Pondok Modern Assalam Putri, Kabupaten Sukabumi, Sabtu.

Gubernur Emil juga memaparkan beberapa program pembangunan batiniah, seperti Magrib Mengaji, Subuh Berjamaah, Zakat Digital, Dakwah Digital, Satu Desa Satu Hafiz, dan MTQ Juara. 

Selain itu, dia juga menyebut beberapa program Pesantren Juara, seperti One Pesantren One Product (OPOP).

Menurut Gubernur Emil, pesantren harus memiliki kemandirian ekonomi. Jika hal tersebut terealisasi, maka ekonomi umat akan meningkat. 

"Biasanya ada produknya, tapi sulit menjualnya atau lain sebagainya, dari sisi itu kita siap membantu," kata Emil.

 

Pewarta: ASJ

Editor : Ajat Sudrajat


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Barat 2019