"Selama ini Cianjur terkenal sebagai lumbung padi Jawa Barat. Sektor pertanian harus diutamakan, terlebih lahan yang produktif. Jangan karena ingin menyerap tenaga kerja yang banyak, lahan pertanian menjadi terkikis," katanya di Cianjur, Rabu.
Dia menuturkan, perindustrian boleh dibangun di lahan mana saja, baik lahan pertanian tadah hujan maupun lahan irigasi teknis, namun apabila lahan pertanian irigasi teknis yang notabene merupakan lahan produktif harus dibuatkan lahan pengganti.
"Memang untuk lahan tadah hujan itu sudah pasti diperbolehkan karena tidak produktif. Tapi dilahan irigasi tidak bisa sembarangan, lahan pengganti harus ada. Jika saat ini lahan yang dijadikan industri belum ada penggantinya, tanyakan ke bupati kenapa demikian," katanya.
Meskipun perindustrian diutamakan, tutur dia, harus ada lahan pertanian abadi, dimana hal tersebut diatur dalam peraturan daerah untuk dijaga, sehingga program ketahanan pangan bisa terus berjalan.
"Harus diatur, jangan biarkan perusahaan seenaknya membuat lahan industri. Perlu diperhatikan sektor lainnya. Sehingga dengan adanya otonomi daerah, harus dibuat aturan yang sesuai dengan aturan pusat," katanya.
Sedangkan aturan tersebut, tambah dia, jangan sampai membuat takut investor, sehingga memilih daerah lain untuk berinvetasi."Adanya investor menandakan perekonomian sudah mulai stabil. Intinya jangan sampai jadi ada masalah. Industri terus ada tapi jangan sampai menggerus pertanian," katanya.
Sedangkan Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Saleh Husin menuturkan, pemerintah kabupaten tentunya lebih tahu kondisi di wilayahnya. Namun terpenting investasi tetap terus berjalan agar perekonomian meningkat.
"Saya rasa itu berdasarkan kebijakan pemda, membuat aturan tentang rencana tata ruangnya. Tapi jangan membuat investasi menjadi sedikit, apalagi investasi di bidang industri yang dapat menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang banyak," katanya.
Pewarta: Ahmad FikriEditor : Sapto HP
COPYRIGHT © ANTARA 2026