Sumedang (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang, Jawa Barat, menyiapkan pengembangan smart farming guna menarik minat generasi muda dan mendorong regenerasi petani tembakau di tengah menurunnya minat pertanian.

Wakil Bupati Sumedang M Fajar Aldila di Sumedang, Kamis, mengatakan bahwa penguatan sektor pertanian juga harus bertumpu pada upaya menarik generasi muda agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

“Kita butuh regenerasi agar berkelanjutan. Anak-anak muda harus mulai tertarik ke dunia pertanian. Tapi itu hanya bisa terjadi kalau kita mampu menunjukkan bahwa bertani itu menjanjikan dan bisa sejahtera. Karena itu smart farming harus mulai kita dorong,” ujar dia.

Ia menjelaskan bahwa smart farming merupakan konsep pertanian modern yang memanfaatkan teknologi digital, sensor, serta sistem otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi produksi, kualitas hasil panen, serta pengambilan keputusan berbasis data.

Konsep tersebut diharapkan membuat pertanian lebih menarik bagi generasi muda karena lebih modern, efisien, dan berbasis teknologi.

“Ke depan, pertanian tidak lagi identik dengan cara konvensional. Harus ada sentuhan teknologi, digitalisasi, dan inovasi agar lebih menarik dan kompetitif,” katanya.

Fajar menambahkan bahwa penerapan smart farming juga akan diarahkan untuk memperkuat komoditas unggulan daerah, termasuk tembakau yang selama ini menjadi salah satu sektor strategis di Sumedang.

Terlebih, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) menyebut produksi tembakau di Sumedang saat ini tercatat mencapai sekitar 21.000 ton per tahun dan menempatkannya sebagai salah satu penghasil terbesar kedua di Jawa Barat.

Komoditas itu juga tercatat ditanam di lebih dari 2.100 hektare lahan yang tersebar di 25 kecamatan, dengan Kecamatan Sukasari dan Tanjungsari sebagai sentra utama seluas sekitar 440 hektare.

Pada kesempatan tersebut, dirinya menyebut bahwa pihaknya juga terus memperkuat sektor pascapanen melalui pemanfaatan UV-dryer atau alat pengering modern serta sistem resi gudang untuk menjaga kualitas dan stabilitas harga tembakau di pasaran.

Selain itu, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan sarana produksi kepada kelompok tani berupa pupuk, benih, cultivator, alat perajang tembakau, hingga rumah pengering tembakau.

Bantuan itu ditujukan untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menjaga kualitas hasil panen petani, ujar dia.

Upaya tersebut juga penting di tengah fluktuasi harga tembakau yang dalam beberapa musim berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, namun pernah turun hingga Rp20 ribu sampai Rp50 ribu per kilogram.

“Kesejahteraan petani harus menjadi kunci. Kalau petani berhasil, maka akan menjadi contoh nyata bahwa sektor pertanian punya masa depan,” katanya.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara petani, pemerintah, dan pelaku usaha agar pengembangan pertanian di Sumedang dapat berjalan optimal dan berdaya saing tinggi hingga tingkat nasional bahkan internasional



Pewarta: Ilham Nugraha
Editor : Ricky Prayoga

COPYRIGHT © ANTARA 2026