Bandung (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat memasang alarm waspada bagi jutaan investor agar tidak terjebak dalam skema investasi bodong yang semakin marak memanfaatkan tren digitalisasi pasar modal. 

"Dan program PINTAR Reksa Dana bukan sekadar kampanye, tetapi gerakan untuk membangun budaya investasi yang disiplin, terencana, dan berorientasi jangka panjang," kata Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman dalam keterangan di Bandung, Rabu.

Langkah ini, menyusul data yang menunjukkan lonjakan investor reksa dana usia di bawah 30 tahun yang kini mendominasi pasar sebesar 54,24 persen. Meski angka SID (Single Investor Identification) terus tumbuh, OJK menyoroti adanya celah kerawanan akibat literasi keuangan yang belum sebanding dengan antusiasme berinvestasi.

Darwisman menekankan bahwa peran media dan kalangan akademisi sangat krusial dalam menyaring informasi keuangan yang valid. Sehingga langkah strategis berikutnya adalah penyatuan pemahaman yang benar mengenai profil risiko, karena itu merupakan benteng utama bagi investor pemula agar tidak mudah tergiur janji keuntungan tinggi yang tidak masuk akal.

"Semakin banyak masyarakat memahami investasi yang aman dan sesuai profil risiko, maka semakin besar pula peluang tumbuhnya investor yang cerdas dan bertanggung jawab," tuturnya.

Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) mengungkapkan wajah pasar modal Indonesia kini resmi bergeser ke tangan generasi zilenial. Fenomena demam investasi di kalangan anak muda ini tercatat melonjak hingga akhir 2025 dengan total investor mencapai 19,2 juta single investor identification (SID).

Lonjakan partisipasi anak muda ini berbanding lurus dengan meroketnya dana kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana yang menyentuh angka Rp679,24 triliun, atau tumbuh fantastis 35,06 persen dalam setahun.

"Pertumbuhan investor, khususnya generasi muda, menjadi momentum penting bagi industri untuk terus memperluas literasi dan inklusi," ujar Direktur Eksekutif Dewan APRDI Mauldy Rauf Makmur.

Meski didominasi kaum muda yang identik dengan profil berani, tren investasi justru menunjukkan kecenderungan memilih instrumen risiko rendah hingga menengah. Reksa dana pendapatan tetap dan pasar uang menjadi primadona, disusul reksa dana terproteksi dan reksa dana saham.

Kendati angka 19,2 juta SID terlihat besar, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat jumlah ini masih "setetes air di samudera" jika dibandingkan dengan total penduduk usia produktif di Indonesia. Partisipasi masyarakat dinilai masih bisa digenjot jauh lebih tinggi.

“Masih terbuka ruang yang sangat besar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam investasi. Karena itu, dibutuhkan edukasi dan penguatan kepercayaan masyarakat,” kata Kepala Direktorat Pengawasan Pengelolaan Investasi 2 dan Pasar Modal Regional OJK, Evie Sulistyani.

Sebagai langkah konkret menjaring lebih banyak investor cerdas, APRDI bersama OJK dan BEI menggencarkan gerakan #ReksaDanaAja dengan menyasar kampus-kampus besar di Jawa Barat seperti UIN Bandung hingga UPI.



Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Riza Fahriza

COPYRIGHT © ANTARA 2026