Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat tipis 11 poin ke level Rp16.690 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp16.701 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memandang penguatan rupiah pada perdagangan sore ini dipengaruhi oleh meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) menyusul sinyal pelemahan pasar tenaga kerja di negara tersebut.
"Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah diprediksi fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.690 - Rp16.740," jelas Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, ketidakpastian global masih tinggi akibat penutupan sebagian pemerintahan AS yang telah memasuki bulan kedua.
Kondisi tersebut menunda rilis data ekonomi utama seperti ketenagakerjaan dan inflasi, sehingga pasar kehilangan panduan resmi dari otoritas. Pasar saat ini hanya mengandalkan survei sektor swasta sebagai acuan.
Laporan tenaga kerja swasta yang dirilis Kamis lalu menunjukkan tanda pelemahan pasar kerja, sehingga peluang The Fed memangkas suku bunga pada Desember naik menjadi sekitar 70 persen dari 60 persen sebelumnya.
Selain itu, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah juga datang dari melemahnya data ekspor dan impor China pada Oktober yang menandakan masih lemahnya permintaan global. Ketegangan perdagangan antara Washington dan Beijing pun memperburuk sentimen risiko.
"Sebuah laporan dari The Information pada hari Kamis menyatakan bahwa AS berencana untuk memblokir Nvidia dari penjualan chip AI skala kecil ke China, sebuah langkah yang dapat membatasi akses perusahaan China ke teknologi canggih," tuturnya.
