"Adanya perubahan sistem entri data di setiap akhir tahun juga sangat berpengaruh terhadap pengadaan obat di rumah sakit," kata Direktur RSUD Dokter Slamet Garut, Maskud Faridz kepada wartawan di Garut, Rabu.
Ia menuturkan, akibat belum tersedianya obat tersebut, RSUD Garut dihadapkan persoalan menipisnya persediaan obat untuk pasien.
Sementara, lanjut dia, menipisnya obat tersebut tidak memengaruhi pelayanan kesehatan pada pasien.
"Hingga saat ini pelayanan masih berjalan dengan baik," katanya.
Ia mengungkapkan, belum diterimanya stok obat 2016-2017 itu disebabkan juga oleh belum terbayarnya klaim BPJS Kesehatan oleh pemerintah sebesar Rp20 miliar ke RSUD Garut.
"Ini juga akibat klaim BPJS RSUD Dokter Slamet Garut yang belum dibayar oleh pemerintah, nilainya cukup besar yaitu mencapai sekitar Rp20 miliar," katanya.
Ia menyampaikan, obat yang tersedia di RSUD Garut saat ini merupakan pengadaan obat tahun anggaran 2015.
Kondisi minimnya obat-obatan di RSUD Garut, kata dia, tidak hanya terjadi di Garut, tetapi di rumah sakit umum daerah lainnya seperti di Tasikmalaya.
"Tidak hanya terjadi di RSUD Dokter Slamet Garut, tetapi juga terjadi di rumah sakit di daerah lainnya seperti halnya di Tasikmalaya," katanya.
Pewarta: Feri P: Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.