"Efek pelemahan nilai rupiah tidak banyak berpengaruh bagi sebagian besar UMKM karena mereka berbahan baku lokal, kecuali bagi UMKM yang berbahan baku ekspor pengaruhnya memang terasa," kata Syarif Hasan pada acara peyerahan bantuan modal dari Kadin Jabar di Bandung, Rabu.
Menurut Syarif Hasan, UMKM memiliki tingkat stabilitas cukup tinggi pada saat melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS. Sektor itu mampu bertahan di tengah himpinan ekonomi yang memburuk.
"UMKM yang berpengaruh memang tidak sedikit pula, namun tidak lebih dari 10 persen dari total UMKM di Indonesia yang berjumlah 56,6 juta unit," kata menteri.
Ia menyebutkan, UMKM yang terkena imbas depresiasi nilai rupiah tersebut antara lain mereka yang berbahan baku impor seperti industri tahu tempe yang menggunakan kedelei impor, kemudian industri olahan, garmen dan TPT skala kecil.
Namun demikian, kata Syarif para pelaku UMKM sudah terbiasa dalam menghadapi himpitan krisis ekonomi sekalipun, meski dari sisi pasar ikut terpengaruhi.
"Para UMKM yang berbahan baku lokal justeru lebih terpengaruh oleh tingginya inflasi yang berimbas pada berkurangnya daya beli masyarakat," katanya.
Terkait peranan pemerintah dalam membantu UMKM khusus produsen tahu/tempe, kata Syarif Hasan terus berupaya memfasilitasi, termasuk melalui intervensi impor kedelai.
Harga kedelai saat ini menembus angka Rp9.500 per kilogram, dan pemerintah berupaya untuk menurunkan pada kisaran Rp8.000 per kilogram.
"Bila Rp8.000 per kilogram itu wajar, dan sebanding dengan depresiasi nilai rupiah yang mencapai delapan persen," katanya.
Semestinya, kata Syarif Hasan, harga kedelai itu tidak semahal saat ini.
"Pemerintah terus berupaya melakukan normalisasi harga kedelai, termasuk mempertimbangkan memberi subsidi," katanya.
Sementara itu Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal menyebutkan, depresiasi nilai rupiah tersebut diharapkan bisa diatasi oleh UMKM dengan memperkuat pasar lokal.
"Pasar lokal sangat penting untuk diamankan, terutama pada saat kondisi tekanan inflasi tinggi dan adanya depresiasi nilai rupiah. Pemerintah perlu melakukan langkah-langkah konkrit untuk memperkuat posisi UMKM," kata Agung.
Sementara itu pelaku UMKM dari sentra kaos Suci Bandung yang juga Ketua Koperasi Sentra Kaos Suci Marnawi Munamah menyatakan dampak depresiasi sudah terasa bagi pengrajin sentra kaos Suci.
"Bahan baku kain kita kan impor, kain TC saat ini Rp105 ribu per kilo, naik dari sebelumnya Rp95 ribu per kilogram. Kenaikannya berubah setiap hari, belum lagi benang," kata Marnawi.
Imbasnya terjadi kenaikan harja jual berkisar 20 persen yang mendorong pemesan mengurungkan pesananya menunggu harga stabil.
"Masih beruntung ada Pilkada dan sosialisasi Pemilu oleh para caleg, sehingga kami masih bisa menombok order yang ditunda," katanya menambahkan.***3***
Editor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.