"Padahal kalau kita selidiki, B UMD-BUMD itu memiliki banyak produk unggulan dan potensi besar untuk maju," kata anggota Komisi C DPRD Jawa Barat Humar Dani, di Kota Bandung, Rabu.
Menurut Humar, pihaknya sudah berkali-kali minta dukungan dari eksekutif ataupun dari sekretariat dewan untuk ikut mempromosikan produk-produk unggulan atau layanan dari BUMD.
"Ya tapi itu tadi, tetap saja tidak diperhatikan. Sampai kami bosan. Akhirnya, mau tidak mau, BUMD berjalan sendiri mulai dari pemasaran hingga mencari klien. Padahal, jika dapat dukungan dari pemerintah, bisa menyumbang PAD yang cukup besar," katanya.
Ia mengatakan, peran serta Pemprov Jabar saat ini memang sudah ada yaitu penyertaan modal hingga 51 persen.
Akan tetapi, kata Humar, walaupun mencapai 51 persen hal tersebut belum cukup jika dihadapkan dengan iklim persaingan bisnis saat ini.
Pihaknya mencontohkan PT Agronesia yang memiliki empat divisi bisnis, salah satunya ialah BMC (Bandoengsche Melk Centrale).
"Jadi BMC sudah punya brand. Produk-produknya berbagai macam mulai makanan, penganan ringan, susu, yoghurt hingga air minum dalam kemasan," kata Humar.
Tapi, kata dia, produk-produk unggulan BMC itu belum dimanfaatkan Pemprov Jabar ataupun pemda-pemda lain di Jabar.
"Contohnya, untuk konsumsi mengambil dari BMC. Tidak masalah lah tidak perlu makanannya, tapi cukup air minum dalam kemasannya. Itu sudah sangat membantu. Ini malah mengambil merek lain," katanya.
Sementara itu, Manajer Kominfo dan Humas PT Agronesia Mustafa Ramdani, menuturkan, BMC merupakan satu dari empat produk unggulan yang dimiliko oleh PT Agronesia.
Mustafa mengatakan, BMC merupakan bagian dari divisi industri makanan dan minuman.
"Produk-produknya pun sudah terkenal mulai dari susu, yoghurt, termasuk air minum dalam kemasan atau AMDK," katanya.
Khusus untuk AMDK, kata Mustafa, pihaknya memiliki sumber mata air di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
"Itu kami miliki. Sayangnya, AMDK BMC kalah pamor dengan AMDK produk swasta. Padahal AMDK produk swasta itu diproduksi di pabrik kami," kata Mustafa.
Ia menambahkan, BMC pun sudah banyak dilirik berbagai investor untuk dikembangkan di daerah-daerah lain di luar Jawa Barat karena BMC punya identitas tersendiri yang layak dijual.
"Memang beberapa daerah yang berminat membuka BMC seperti di Sulawesi, Yogyakarta, dan Bali. Bahkan Ratu Hemas sendiri yang berminat ingin membuka BMC di Yogyakarta," kata Mustafa.***3***
Ajat S
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.