Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada para jurnalis mengenai energi panas bumi yang ada di Indonesia khususnya di Jawa Barat, kata Ketua PJI Jawa Barat Iwa Ahmad Sugriwa dalam sambutannya.
"Akhir-akhir ini kita sering diributkan dengan maraknya pemberitaan mengenai kontroversi energi panas bumi (geothermal) di Kabupaten Bandung. Tidak jarang, jurnalis itu sendiri yang menulis beritanya kurang memahami mengenai energi panas bumi termasuk dengan landasan hukum dan dampaknya," kata Iwa.
Hadir sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut, Guru Besar Manajemen Kawasan Hutan Konservasi Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. H. Sambas Basuni dan Peneliti Senior sekaligus Pakar Geothermal ITB Ir. Ali Ashat Dipl. Geothermal En. Tech.
Menurut Sambas Basuni, pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia seringkali terkendala salah satunya oleh persyaratan.
Padahal 40p ersen potensi energi panas bumi ada di Pulau Jawa dimana 80%nya ada di Kabupaten Bandung dan Garut.
Masalah yang ada di lapangan mengenai energi panas bumi seringkali diributkan karena adanya pelanggaran prinsip dasar konservasi hutan. Karena memang, titik panas bumi memang mayoritas ada di kawasan konservasi.
"Kita seringkali kabur dalam mendefisnikan dan memahami konservasi. Padahal konservasi adalah penggunaaan Sumber Daya Alam (SDA) untuk sebesar-besarnya untuk dimanfaatkan sepanjang waktu. Memanfaatkan energi panas bumi lebih baik dari dibiarkan yang penting pengelolanya bisa bertanggung jawab," ujarnya.
Sementara itu, Ali Ashat menjelaskan, panas bumi adalah Salah satu energi terbarukan yang tidak intermitten yang mempunyai densitas energi yang cukup besar.
Sedangkan PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) pertama di dunia ada di Larderello di selatan Florence, Itali (1897) menghasilkan uap untuk memutar steam engine kecil.
Pada tahun 1904 dapat energi alam itu mampu menyalakan 4 buah lampu, 1912 menggunakan condensing turbine, 1914 menghasilkan 8,5 MW, 1944 menghasilkan 127 MW, 1981 menghasilkan 360 MW.
"Jenis-jenis panas bumi yang ada di dunia ini ada empat diantaranya Sistem Hidrotermal yang terdiri dari dua jenis yakni dominasi uap (Vapor dominated), dominasi cairan (Liquid dominated), sistem Geopressured, Sistem Petrothermal atau Hot Dry Rock (HDR) dan Enhanced Geothermal System (EGS)," ujarnya.
Pemanfaatan panas bumi tidak hanya selalu untuk energi listrik, tapi juga bisa digunakan untuk mandi uap dan atau air panas, agrikultur (pertanian), aquakultur (perikanan & peternakan udang), proses industri dan pemanasan ruang dan wilayah, katanya.***4***
Hedi A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.