"Kebijakan itu akan dilakukan di tahun-tahun mendatang, kebutuhan listrik Singapura cukup besar. Nantinya bukan lagi ekspor gas untuk pembangkit di sana namun langsung memenuhi pasokan listriknya," kata Widjajono di sela-sela Seminar Teknologi dan Bisnis Ketenagalistrikan Nasional IV/2011 di Sabuga ITB, Bandung, Selasa.
Ia menyebutkan, suplai gas untuk memasok pembangkit Singapura saat ini dilakukan dari Indonesia. Namun dengan adanya ekspor listrik dari Indonesia, maka bisa melakukan penghematan bahan bakar yakni gas di dalam negeri.
Menurut dia, dengan penggunaan gas di dalam negeri untuk menghasilkan listrik, termasuk untuk ekspor ke Singapura maka penggunaan gas bisa digunakan sendiri dan akan jauh lebih hemat dibanding mengekspor dalam bentuk gas.
"Penggunaan bahan bakar gas untuk pembangkit listrik jauh lebih murah dibandingkan bahan bakar minyak. Meski demikian penggunaan gas tetap harus dihemat salah satunya dengan melakukan kebijakan yang lebih efektif," katanya.
Lebih lanjut, Wakil Menteri ESDM menyebutkan, Indonesia sebenarnya lebih memiliki cadangan batubara lebih besar dibandingkan minyak.
Untuk itu penggunaan batubara untuk pembangkit dan keperluan industri akan terus dimaksimalkan, termasuk membenahi terus tata niaga barang tambang itu sehingga pemanfaatannya lebih maksimal di dalam negeri.
"Pemanfaatan energi non BBM menjadi agenda yang tidak bisa ditunda lagi, Indonesia punya banyak cadangan batubara, panas bumi, gas dan energi terbarukan lainnya," katanya.
Terkait potensi panasbumi untuk pembangkit listrik, menurut widjajono, merupakan hal yang sangat memungkinkan untuk dioptimalkan ke depan, terutama di Jawa, Sumatera dan kawasan Indonesia Timur.
"Komitmen potensi panasbumi akan dioptimalkan, saat ini beberapa proyek sudah digulirkan. Namun jelas investasinya perlu didukung, salah satunya dalam penuntasan perizinan," katanya
Pemanfaatan panas bumi untuk pembangunan PLTP saat ini dilakukan di wilayah Jawa Barat dengan produksi listrik yang cukup signifikan dan pendukung ke sistem jaringan interkoneksi Jawa Bali.
"Beberapa proyek sudah berjalan, dan sebagian lagi dalam proses," kata Wakil Menteri ESDM itu menambahkan.
Sementara itu Seminar Teknologi dan Bisnis Ketenagalistrikan Nasional 2011 di Sabuga ITB diikuti oleh sejumlah perusahaan pertambangan dan energi di Indonesia yang juga menggelar pameran.
Hadir pula pada kesempatan itu Pendiri Medco Group Arifin Panigoro, Mantan Dirjen Energi Terbarukan ESDM Luluk Sumiarso serta yang lainnya. Selain itu juga hadir Rinaldy Dalimi (Dewan energi Nasional).
Sejumlah makalah yang dipaparkan dalam seminar itu adalah "Kebijakan Energi Primer untuk Tenaga Listrik" yang dibawakan oleh pakar perminyakan Kurtubi, "Pendanaan Tenaga Listrik Nasional" (Parno Isworo), "Tantangan Pengembangan Ketenagalistrikan Indonesia untuk Mempercepat Elektrifikasi Pedesaan" (Herman Darnel Ibrahim).
Tujuan dari seminar nasional itu untuk memformulasikan solusi permasalahan ketenagalistrikan nasional yang diharapkan akan dapat menjadi bahan kebijakan jangka panjang pembangunan. ***6***
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.