Bandung, 15/1 (ANTARA) - Biaya promosi yang diperlukan operator seluler untuk menjaring pelanggan mobile phone di Indonesia pada 2011 dipastikan lebih besar menyusul pasar potensial produk itu sebagian besar sudah terisi.

"Promosi dan inovasi kualitas menjadi fokus operator seluler, pada 2011 mereka memasuki peperangan broadband dan tidak bisa terhindarkan lagi biaya yang harus mereka keluarkan lebih besar," kata Direktur Sharing Vision Dimitri Mahayana pada acara Seluler Jabar (Sebar) Night 2011 di Bandung, Jumat malam.

Menurut Dimitri pengguna mobile phone di Indonesia sudah mencapai 70 persen dari total penduduk di Indonesia dengan dinamika yang begitu cepat mengikuti perkembangan teknologi komunikasi dunia.

Ia menyebutkan, memasuki 2010 broadband mulai meningkat, dan pada 2011 ini diprediksi akan terjadi puncak dari pertumbuhan broadband di tanah air dengan sejumlah keunggulan dan spesifikasi pelayanan dari masing-masing operator seluler.

"Pertumbuhan broadband saat ini cukup signifikan, dan akhir 2011 diprediksi akan memasuki fase saturasi atau kejenuhan pelanggan," kata Dimitri yang juga pakar IT dari Institut Teknologi Bandung itu.

Menurut Dimitri, di tengah perkembangan broadband yang menjadi primadona bagi pengguna mobile phone saat ini, layanan ini merupakan kue yang diburu para operator seluler saat ini.

Ketinggalan langkah dalam pengembangan sektor itu, kata Dimitri akan berakibat lepasnya peluang atau pelanggan.

"Di lain pihak di tengah pertumbuhan broadband meningkat signifikan dan promosi ketat antar operator seluler, di lain pihak revenue akan menurun karena konsumen menyusul penurunan ARPU akibat adanya perpindahan dari voice dan SMS ke broadband," katanya.

Di tengah melakukan promosi besar-besaran, di lain pihak, kata Dimitri, ada kecenderungan setiap operator berhati-hati dalam melakukan ekspansi terutama dalam penghematan biaya operasional.

"Kondisi itu tidak hanya dihadapi operator di Indonesia, namun juga di luar negeri. Mereka juga dipastikan berhitung dalam melakukan pengeluaran," katanya.

Di lain pihak, kata Dimitri masih ada pasar layanan mobile phone antara lain dengan memaksimalkan layanan 'mobile money' dan 'mobile remitent' dalam rangka pelayanan bagi konsumennya.

"Mobile remitent merupakan peluang yang masih terbuka, masih banyak yang bisa digarap, pasarnya masih luas di pelosok Indonesia yang telah mendapat layanan seluler. Bisa jadi layanan ini menjadi pesaing layanan perbankan," kata pakar IT ITB itu.

Persaingan yang kian memuncak di sektor telekomunikasi selular, menurut Dimitri, kualitas layanan tetap menjadi 'panglima' dalam pemasaran produk untuk tetap dekat dan digunakan oleh pelanggannya.

Sementara itu Penasehat Seluler Jabar (Sebar), Budhiyana menyebutkan era broadband tidak bisa dihindarkan lagi dan memberikan kemudahan dan efesiensi bagi masyarakat.

"Layanan internet mobile diharapkan mendorong budaya masyarakat secara positif dan lebih produktif. Informasi menjadi begitu cepat diakses dalam hitungan menit bahkan hitungan sekian detik," kata Budhiyana.

Sementara itu kegiatan Sebar Night 2011 yang digelar di Hotel Grand Preanger Kota Bandung dihadiri oleh perwakilan dari sejumlah operator seluler yang ada di Bandung yakni Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Bakrie Telecom, Smartfren, Flexi dan IM2.


Syarif A


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026