"Kebutuhan perumahan saat ini masih cukup tinggi, dipihak lain perekonomian terus membaik dan suku bunga kredit pemilikan rumah juga mencapai titik terendah. Bisnis properti pada 2011 diprediksi booming," kata Presiden Direktur dan CEO PT Bakrieland Development Tbk Hiramsyah S Thoib di sela-sela pertemuan Alumni ITB angkatan 1981 di Bandung, Sabtu.
Menurut Hiramsyah, kebutuhan perumahan di Indonesia saat ini masih delapan juta unit, di lain pihak peningkatan daya beli masyarakat terus meningkat yang dipicu juga dengan peranan perbankan yang kian agresif menggarap sektor properti setelah adanya penurunan suku bunga KPR antara 10 hingga 11 persen.
Bahkan, menurut dia ada bank yang mematok bunga KPR di bawah 10 persen, sehingga memberikan angin segar terhadap peningkatan jumlah rumah yang terjual baik itu perumahan vertikan maupun horisontal.
"Jelas sudah beberapa sektor mengalami pertumbuhan seperti pasar sepeda motor dan pembelian mobil dalam lima tahun terakhir ini, dan kami yakin pada 2011 ini giliran industri properti booming," katanya.
Hiramsyah menyebutkan, pertumbuhan sektor properti pada 2010 cukup positif, meski masih di bawah 20 persen. Namun dengan indikator kemampuan ekonomi masyarakat yang meningkat, tidak menutup kemungkinan prediksi pertumbuhan 20 persen atau bahkan 30 persen bisa dibukukan industri properti pada 2011.
Sementara itu, kondisi industri properti sekarang ini tidak terlalu terpengaruh oleh krisis moneter karena adanya pergeseran kekuatan modal yang mereka gunakan dalam membiayai proyek.
"Krisis ekonomi pada 2008 tekanan ke industri properti nggak besar, pasalnya saat ini pengembang property menggunakan dana sendiri, beda dengan krisis moneter 1998 lalu dimanaindustri properti banyak yang menggunakan pembiayaan perbankan," katanya.
Pertumbuhan sektor perumahan itu berlaku jga untuk perumahan biasa maupun aparteman atau rumah susun. Kebijakan pemerintah yang meringankan persyaratan dan penurunan bunga KPR cukup mendorong.
"Kebijakan pemerintah yang mendukung khususnya sektor rusunami turut mendorong pertumbuhan industri properti, di lain pihak sayangnya masih ada hambatan sinkronisasi dan kordinasi lintas sektor dan antara kebijakan pemerintah pusat dan daerah," katanya.
Pada 2009, kata dia industri properti masih wait end see dalam melakukan ekspansi, namun setelah dampak krisis global tak terlalu kencang akhirnya pertumbuhannya terus positif.
Namun di lain pihak, pada 2011 ini dipastikan terjadi kenaikan harga properti yang signifikan, meski diprediksi tidak akan lebih dari sepuluh persen.
Khusus untuk pengembangan rumah susun milik atau Rusunami, pada 2011 Bakrieland akan membangun tiga tower di Jakarta Timur masing-masing 300 unit per tower.
Pada kesempatan itu Presdir Bakrieland menyebutkan, pihaknya sudah menyusun "project cost" 2011 antara Rp2 triliun hingga Rp2,5 triliun, atau lebih besar dibanding "project cost" tahun lalu.
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.