Oleh Syarif Abdullah
Bandung, 22/12 (ANTARA) - Sebagai pencatat sejarah Juara Liga Dunhill I tahun 1994-1995, tim "Maung Bandung" belum mampu mengulang sukses mengembalikan supremasi tertinggi Juara Liga Indonesia yang kini berubah menjadi Liga Super Indonesia ke Kota Kembang.

Termasuk 2010, masih bukan milik Persib dari sisi prestasi. Persib masih kalah bersaing dari Arema, Persipura dan Sriwijaya FC setelah finish di urutan kelima pada musim kompetisi lalu.

Namun di lain pihak, Persib merupakan salah satu tim yang sukses melakukan swastanisasi. Kehadiran Konsorsium Persib menjadikan klub "Maung Bandung" menjadi salah satu tim yang paling sukses mendulang sponsorship.

Dua musim terakhir, tim "Biru-Biru" itu tidak lagi dipasok anggaran dari APBD. Aliran sponsor terus mengalir dan puncaknya pada musim ini sehingga menjadikan tim kebanggaan masyarakat Bandung dan umumnya Jawa Barat itu paling sehat secara finansial.

Dari sisi bisnis, tahun 2010 menjadi "Tahun Persib" namun dari sisi prestasi masih jauh dari tim Bandung itu. Dari sisi finansial pasukan Bandung itu bisa membeli pemain bintang, bahkan bisa disebut tim 'tergemerlap bintang' tahun ini.

Masih adakah yang salah dari Persib? Benarkah "Maung Bandung" berlaga tanpa karakter? ataukah masih ada penyakit lain yang belum juga bisa dicari penyembuhnya.

Jelas keberhasilan Persib menggaet popularitas dan sponsorship merupakan salah satu yang harus diwaspadai oleh Maung Bandung dalam kebangkitannya agar tidak sebatas eforia.

Pengorbanan dan keberanian inisiator perubahan di tubuh Persib tidak bisa dianggap remeh membentuk Persib seperti sekarang ini. Dan itu harus diakui, namun di lain pihak tampaknya Maung Bandung masih membutuhkan sebuah konsep yang muncul dari kearifan lokal khas "Persib", bukan adopsi ataupun plagiat kiat klub lain membangun kekuatannya.

Apa kearifan lokal Persib yang mungkin terlupakan, salah satunya kebersamaan dan ketulusan membangun kekuatan dan prestasi yang melibatkan seluruh stakeholder sepertihalnya kebangkitan Persib di awal 1980-an. Semua berperan sesuai perannya, ada satu komando serta ada ikon di tim yang bisa mengakselerasi dinamika tim.

Swastanisasi Persib bukan hal yang keliru dalam sebuah penetapan konsep bisnis bagi Persib masa depan. Namun di lain pihak perlu berkaca dari kebangkitan klub Inggris, Manchester City yang bergelimang Euro dan hanya menjadi panggung pemain bintang.

Terlepas dari dana yang bejibun, Persib butuh teman, butuh mereka yang peduli dengan masa depan tim, bukan untuk satu atau dua musim kompetisi. Para mantan pemain Persib Bandung harus punya saluran untuk diminta masukannya dan tidak sebatas menjadi obrolan di warung kopi.

Masukan para mantan Persib sejauh ini kurang berperan dalam membentuk karakter tim secara utuh. Ulasan-ulasannya lebih banyak ke tataran teknis permainan tanpa menguliti karakter tim secara keseluruhan. Atau mungkin mereka tidak punya media atau wadah untuk menyampaikan kepedulian atau kontrolnya sebagai salah satu bagian dari "sejarah Maung Bandung"
Butuh pelatih yang bisa menjalankan tugas seperti halnya Alex Ferguson, yang bertahan lebih dari 20 tahun mendampingi tim. Persib jangan terlalu bangga bisa mengontrak pelatih asing atau mengganti pelatih beberapa kali dalam satu musim pertandingan dengan alasan teknis atau kecukupan anggaran.

Persib belum terlambat untuk melahirkan pelatih bertangan dingin, bukan sekedar tempat persinggahan pelatih-pelatih seperti selama ini dengan hasil yang tidak kunjung meraih target. Proses pencarian bakat tidak hanya untuk menjaring pemain muda, namun sudah waktunya Persib menjaring pelatih berkharisma, bertangan dingin dan memiliki visi dan misi untuk kemajuan tim ke depan.

Seorang pelatih memang lahir bukan dari sebuah proses karbitan dan perlu waktu lama untuk menempa mereka. Selain itu perlu ada pola dan kearifan pula untuk bisa menerima kesuksesan dan kegagalan mereka dalam proses menuju prestasi puncak.

Yang terjadi saat ini, Persib kesulitan mendapatkan pelatih lokal yang bersertifikat atau berlisensi A. Manajemen Maung Bandung sebagai tim profesional memang tidak punya kewajiban memunculkan pelatih itu, namun bila konsep kekuatan tim berkelanjutan bergulir semuanya harus dipikirkan, tidak sebatas gonta-ganti pelatih berlisensi mumpuni.


Pemain Muda
Sukses Timnas PSSI di Piala AFF, setidaknya membuka mata semua tim nasional dan juga klub, betapa kehadiran pemain bintang tidak selamanya menjadi jaminan.

Memang pemain naturalisasi Christian Gonzales masih menjadi penentu sukses tim dalam beberapa pertandingan, namun nama muda seperti Irvan Bachdim, Youngki, Arif Suyono, Nasuha dan lainnya muncul.

Sukses timnya memang tidak lepas dari peran pelatih Albert Riedl, namun tidak lantas bisa menganggapnya sebagai 'pahlawan' karena pada dasarnya setiap pelatih bisa melakukan cara dan kiat Riedl meski aplikasinya para pelatih selalu kesulitan menghadapi karakter pemainnya yang berbeda atau bahkan lebih dominan di tim.

Dan sekarang, Persib ditangani pelatih senior Daniel Roekito yang hadir menggeser posisi Jovo Cuckovic yang dianggap gagal menghadirkan gairah dan memaksimalkan kekuatan Maung Bandung.

Daniel datang dengan pendekatan lain dengan menekankan 'permainan dengan hati'. Setiap pemain harus bertanding dengan hati dan kebersamaan. Secara teknik para pemain Persib unggul, namun semuanya tak akan jadi apa-apa bila setiap pemain asyik dengan kemampuan dan permainannya sendiri.

Semua pemain berharap pemainnya seperti itu, namun tergantung kemampuan pelatih menerapkannya. Mengubah karakter pemain yang sudah terbentuk bukan hal mudah, meski mereka diyakini seorang profesional.

Daniel dikenal punya kemampuan untuk 'memaksa' pemainnya bermain dengan hati dan karakter timnya. Sama halnya dilakukan seorang Jaya Hartono di awal bergabung dengan Persib, namun seiring perjalanan waktu kekuatan karakternya terus mengendur yang akhirnya terpaksa angkat kaki sebelum musim kompetisi berakhir.

Publik Bandung tidak berharap Daniel bernasib seperti Jaya. Publik Bandung menginginkan sepak bola khas Kota Kembang kembali dan dipertahankan dari setiap musim ke musim kompetisi berikutnya. Bila perlu Daniel bertahan lama mendampingi Persib seperti halnya Sir Alex di MU, bukan sekedar pelatih pengganti.

Memang awal kompetisi di akhir 2010 ini bukan milik Persib Bandung yang diawali dengan sebuah hasil yang kurang meyakinkan. Daniel akan memulai kiprahnya 2011, tepatnya pertandingan perdananya melawan Sriwijaya FC, 2 Januari 2010 mendatang.

Kesukaanya terhadap pemain muda diungkapkannya dalam beberapa pujian yang dilontarkan kepada sejumlah pemain belia Persib. Johan Utama, striker asal Kalimantan juga dihadirkan oleh pelatih itu.

Namun benarkah Daniel memiliki otoritas penuh untuk memainkan perannya menentukan pemain starter dengan materi pemain muda. Pasalnya Persib punya trauma hasil jeblok saat bermaterikan pemain muda saat dilatih Marek Sledzianowski (Polandia).

Bisakah Daniel berperan sepertihalnya Alfred Riedl memberlakukan disiplin ketat, protektif namun tetap memperhatikan kebutuhan afeksi para pemainnya. Relakah Manajemen Persib memberikan otoritas penuh kepada Daniel untuk memainkan strategi yang dianutnya tanpa melakukan intervensi teknis.

Sekarang di tangan Daniel Roekito-lah Persib menggantungkan harapan untuk meraih Tahun 2011 dengan gemilang.***4***


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026