Majalengka, 9/11 (ANTARA) - Pasokan sapi hidup dari Jawa Tengah untuk sejumlah daerah seperti Majalengka pascabencana meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta mengalami penurunan hingga 50 persen dari biasanya.

Seperti terpantau dalam sidak Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Peternakan (Dishutbunak) Kabupaten Majalengka menjelang musim Lebaran Qurban, Selasa, ke Pasar Ternak Regional di Kadipaten, Kabupaten Majalengka, dari biasanya dalam sekali kirim mencapai 40 ekor sapi namun sekarang hanya 20 ekor saja.

Kepala Bidang Peternakan Dishutbunak Kabupaten Majalengka Wawan Suwandi mengatakan penurunan pasokan sapi hidup dari Jateng ini diduga disebabkan oleh bencana meletusnya Gunung Merapi beberapa waktu lalu.

"Kami memperkirakan penurunan pasokan sapi ini ada kaitannya dengan bencana meletusnya Gunung Merapi beberapa waktu lalu. Sebelumnya pada saat menjelang Idul Fitri tidak ada masalah," kata Wawan.

Namun kondisi ini, kata Wawan tidak terlalu berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan sapi hidup menjelang Hari Raya Idul Qurban karena masih dapat terpenuhi dari para peternak lokal di Kabupaten Majalengka dan kiriman dari Sumedang.

Meski demikian, Wawan mengakui terjadi lonjakan harga sapi hidup dari sebelumnya per ekor hanya Rp7 juta, menjelang Idul Qurban ini melonjak hingga 30 persen menjadi Rp8,5 juta per ekor.

"Kenaikan harga menjelang musim Lebaran Qurban memang sudah menjadi hal yang biasa. Sehingga kami yakin masyarakat pun sudah memakluminya," katanya.

Sementara itu Rudianto salah seorang pedagang sapi mengaku tidak terpengaruh dengan penurunan pasokan sapi dari Jateng karena dia masih bisa menjual sapi-sapi lokal dengan harga yang lebih murah dibanding sapi yang dipasok dari Jateng.

Sementara hasil Sidak kali ini, petugas dari Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Peternakan (Dishutbunak) Kabupaten Majalengka tidak menemukan sapi bermasalah yang mengidap penyakit anthrax maupun penyakit mulut dan kuku. Sehingga bisa dipastikan sapi-sapi yang beredar di Majalengka aman dari penyakit berbahaya.***3***



M taufik


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026