Menyusuri lereng-lereng Merapi ketika zona itu ditutup dan dikosongkan ibarat bercanda dengan maut.
Namun, jika anda memiliki nyali untuk ke sana, yakinlah anda akan diganjar dengan memperoleh sensasi yang oleh peyair liris digambarkan dalam frasa ganjil: "a momentary wow", "duhai yang selintas".
Pagi setelah gunung --yang dipandang suci oleh penyair mistik Linus Suryadi AG-- memuntahkan lahar membara dan dingin Kamis (4/11) malam, kami dipandu seorang polisi menerobos kawasan terlarang itu.
Inilah salah satu entah berkah atau kutukan yang dilahirkan Reformasi 1998; anda bisa menerobos batas larangan masuk wilayah maut di lereng-lereng Merapi.
Sebelum reformasi lahir, batas wilayah berbahaya itu pastilah dijaga aparat militer, lengkap dengan senapannya. Kini, batas itu dijaga beberapa relawan, anak-anak muda yang membiarkan tubuh mereka lusuh tersiram hujan debu.
"Jangan jauh-jauh, awan panas bisa datang tiba-tiba," hanya itu peringatan kaum relawan pada jurnalis yang nekat mendekati puncak Merapi.
Para relawan itu kini berjaga di jalan-jalan berjarak 20 km dari puncak Merapi. Kami menjumpai mereka tatkala menyusuri Merapi lewat jalan masuk Sleman, Magelang, dan Klaten.
Menusuk jauh ke dalam lereng Merapi di Glagaharjo, Cangkringan, kami disuguhi hamparan lanskap yang kontras. Setelah hujan pasir dan lahar semalam, pohon-pohon raksasa bertumbangan. Rumpun bambu morat marit. Kebun-kebun salak tak bisa lagi dikenali. Tanaman penghasil salak pondoh itu terbenam oleh lumpur kelam. Rumah-rumah berantakan.
Namun, nah, inilah keajaiban itu: bersebelahan dengan kebun salak yang luluh lantak, berpetak-petak padi yang bersemai, dengan kehijauan daun yang tak tersentuh lahar, tetap tegak di tengah sisa badai.
"Jangan-jangan Dewi Sri memang ada. Lihat itu bayi-bayi padi yang tak terpengaruh hujan pasir," tutur seorang jurnalis. Tumbuhan yang baru setinggi mata kaki petani itu berada di petak-petak sawah, di antara ladang salak, kebun pisang, samping rumah, sisi jalan utama desa.
Setelah menyaksikan kontras alam itu, perjalanan dilanjutkan ke batas akhir Glagaharjo. Seratus meter dari sana, terlihat bukti kasat mata bahwa lahar Merapi itu sungguh bisa melumat apa saja, termasuk hulu Sungai Gendol.
Inilah penuturan penduduk setempat yang meninggalkan tempat pengungsian, kembali ke rumah sekadar menengok beberapa ekor ayamnya yang masih bernapas: di bawah gunung lahar itu, kemarin masih berupa sungai selebar lapangan bola, sedalam jurang. Tak kurang 30 meter kedalamannya.
Kami terperangah. Hulu sungai itu tak berbekas, laksana selokan ditimbun pasir satu truk.
Polisi yang mengawal perjalanan ke lokasi maut ini berkomentar, penduduk sini pastilah kaya raya setelah bencana ini usai. Jutaan kubik lahar yang menimbun Sungai Gendol itu tak lain adalah pasir untuk bahan cor kualitas satu!
"Kalau sekubik taruhlah senilai Rp100 ribu, hitung sendiri semuanya," kata polisi itu.
"Kita ini hanya lima kilometer dari puncak Merapi. Seratur meter dari sungai yang tak bersisa itu. Kalau lahar yang melumat Gendol itu meluncur tiba-tiba, tamatlah riwayat kita," tutur polisi itu tanpa sedikit pun nada bercanda.
Belum lima menit kalimat itu diucapkan, hujan tiba-tiba mengguyur, angin berhembus, menguncang sisa pohon-pohon yang masih tegak. Seorang relawan datang tergopoh-gopoh, setelah melaju dengan motor yang berlumpur, mendekati kami.
"Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Cuaca begini pertada buruk," katanya seraya melarikan motornya dalam kecepatan tanggung.
Jalanan tak memungkinkan motor melaju kencang. Lumpur bekas lahar yang tersiram hujam membuat jalanan licin. Tebalnya pasir di jalanan bahkan bisa membuat ban mobil selip, hanya berputar di atas pasir saat pegas diinjak.
Merapi saat ini juga menghadirkan wajah mautnya buat ratusan ternak sapi, sumber nafkah penduduk desa Bawukan. Ratusan lembu yang ditinggalkan para pemilik itu kini ibarat sedang menyongsong ajal mereka. Tak ada rerumputan segar yang bisa mereka kunyah.
Seorang pemilik yang berjudi dengan maut, karena setiap saat bisa dilibas awan panas, sesekali meninggalkan pengungsian, berjarak 20 km dari puncak Merapi untuk memberi makan sapinya.
Dia masuk menembus zona terlarang, ke radius 6 km, sekadar mencari sisa pohon pisang. Pohon pisang itu dikelupas pelepah luarnya, dan dirajang-rajang, dicacah bagian dalamnya.
"Hanya itu pakan yang bisa diberikan pada sapi. Cuma untuk bertahan hidup," tuturnya.
Sapi-sapi itu kini semakin lemah, lunglai. Jika dalam hitungan pekan tak ada perubahan kembali ke situasi normal, jika Merapi masih mengancam, tak ada lagi harapan untuk hidup buat hewan-hewan itu.
Merapi kini juga merenggut ilusi ketentraman para penghuni lereng-lerengnya.
"Saya tak tahu lagi harus kemana setelah ini. Kampung saya sudah hangus. Saya tak punya apa-apa lagi," kata seorang bapak, yang ketika itu bertahan bersama istri dan kelima anaknya.
Pada malam Jumat yang naas itu, Merapi menyemburkan sekaligus awan panas dan lumpur membara. Sebuah kampung di Cangkringan menerima mutahan api. Korban berjatuhan, dengan tubuh hangus, bahkan ada yang terbelah.
Penduduk yang mengungsi terlebih dulu, selamat, namun mereka menanggung duka berkepanjangan: sirnanya ilusi masa depan yang tenteram, hidup sentosa, yang oleh kultur Jawa diringkas dalam selarik kata-kata: "toto tentrem kerto raharjo".
Ratusan ribu penduduk di lereng Merapi, baik yang di wilayah Sleman, Magelang, maupun Klaten kini tinggal di barak-barak pengungsian.
Mereka tercerabut dari kampung halaman dan harus hidup dengan uluran tangan pemerintah, lembaga karitas, dan kaum dermawan.
Di tempat pengungsian utama di Stadion Maguwoharjo, Sleman, sebagian besar pengungsi memperlihatkan wajah keputusasaan. Sebagian di antara mereka yang tak punya apa-apa, setelah kampung halaman mereka hangus terbakar lahar membara Merapi, tercenung di tempat pengungsian.
Ada yang masih menahan isak tangis sambil merebahkan tubuh di lantai dengan selembar terpal plastik.
Seorang ibu mendekap bayinya yang baru berumur tiga bulan. Bayi itu menyusu pada ibu yang sedang tertekan. Keduanya rebah di antara orang-orang yang tampak memelas, kusut masai.
Para relawan mondar mandir membagikan pakaian bekas, selimut yang hanya cukup untuk orang-orang jompo.
Anak-anak di bawah lima tahun mengunyah biskuit. Tumpukan nasi bungkus dalam kardus besar dionggokkan di sudut-sudut ruang. Tak ada yang menyentuh.
"Kami hanya mau makan setelah dibagikan. Kami tak mau mengambil sendiri," kata seorang bapak di depan tumpukan kardus berisi nasi dengan sayur dan tempe itu.
Bapak itu menuturkan, semua rekannya yang jadi korban Merapi sepakat akan mengikuti perintah relawan yang membagi jatah makanan dan pakaian. Itu sebabnya, di lokasi yang dihuni sekitar 30 ribu pengungsi itu, tak ada kejadian saling berebut jatah makan.
"Tapi, saya tak menjamin harmoni ini berlangsung lama," kata Ikhwan, relawan Forum Komunitas Masjid (FKM).
Dia berpengalaman dalam membantu kaum pengungsi. Katanya, di hari-hari ketika pasokan pangan masih berlimpah, harmoni masih terjadi.
"Begitu tanda-tanda kelangkangan logistik tampak, biasanya pengungsi laki-laki mengambil duluan jatah makan. Lama-lama terjadi rebutan. Yang jadi korban pertama pastilah wanita dan anak-anak," katanya.
Ikhwan mengimbau pemerintah, sebaiknya dana yang tersedia difokuskan untuk membeli bahan pangan buat pengungsi, bukan membiayai operasi aparat militer untuk terjun ke lokasi pengungsian.
Imbauan ini dilontarkan setelah Pemerintah mendatangkan tiga ratus pasukan Marinir dari Jakarta ke lokasi pengungsian yang kabarnya untuk berjaga-jaga. Pada saat yang sama lima truk militer memuat pasukan Kostrad meluncur dari Semarang menuju Sleman.
"Kalau pengungsi bencana alam begini cukup dijaga polisi dan dilayani relawan. Ini bukan pengungsi daerah konflik. Tak perlu tentara," kata relawan lain.
Di lokasi pengungsian, pasukan militer itu medirikan barak-barak darurat. Mereka juga menyandang senapan panjang.
"Orang Jawa di pegunungan Merapi ini pantang cekcok soal makanan. Jadi sia-sialah menunggu keributan soal makanan di sini," kata relawan tersebut setelah menduga kedatangan militer itu untuk mengatasi keributan ketika jatah makanan berkurang.
Menurut dia, mudah-mudahan Presiden SBY menyelami kultur orang Jawa pegunungan, lalu segera menarik kembali tentara dari pengungsian. Biar tak menambah beban.
"Jatah makan tentara di pengungsian ini bisa dialihkan untuk korban Merapi," katanya.
Hujan dan angin datang tiba-tiba. Bukan hujan biasa, tapi bercampur debu. Udara Maguwoharjo semakin dingin. Pengungsi anak-anak dan orang tua, yang sebagian besar belum mendapat jatah selimut, akan tidur di udara terbuka, dalam pelukan dingin malam.
Merapi oh Merapi.*
(M020/s018)
Editor :
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.