"Survei geologi dan geosains untuk sumur Tampomas sudah tuntas awal Oktober 2010, dan Maret 2011 dimulai ekplorasi. Sedangkan pengeboran pembangkit tenaga listrik panas (PLTP) Cisolok akan menyusul pada 2011 juga," kata Direktur Utama PT Jasa Sarana (Persero) Soko Sandy Buwono di Bandung, Jumat.
Menurut Soko, kedua proyek strategis PLTP tersebut merupakan bagi dari tiga proyek pemanfaatan geothermal di Jabar yang sudah menyelesaikan proses tender pada Januari 2010.
Pelaksanaan ekplorasi sumur PLTP Tampomas akan dilakukan oleh PT Jasa Sarana melalui anak perusahaanya PT Wijaya Karya Jabar Power dan PLTP Cisolok oleh PT Jabar Rekin Geothermal. Kedua perusahaan itu menggandeng investor dan konsorsium untuk menggarap kedua proyek itu.
Menurut Soko, kedua pembangkit itu ditargetkan beroperasi pada 2014 dan sudah terkoneksi ke jaringan listrik Jawa Bali.
"Proses ekplorasi membutuhkan waktu dua tahun, dan ditargetkan mulai beroperasi dan memasok listik ke PLN pada 2014," kata Soko.
Sementara itu proses survei G&G yang terdiri atas survei geologi serta geokimia dan geofisika dilakukan oleh Electro Consultant asal Italia dan telah dilakukan sejak Juli 2010, sedangkan survei untuk PLTP Cisolok ditargetkan tuntas akhir 2010.
Sementara itu Direktur Teknik PT Wijaya Karya Jabar Power Antono Satrio Prakoso menyebutkan, proyek PLTP Tampomas membutuhkan biaya 110 juta dolar AS. Sedangkan hasil survei menunjukan potensi listriknya sebesar 60 megawatt, namun yang mendapatkan izin sebesar 40 MW.
"Potensinya sekitar 60 MW, namun yang akan diekplorasi sebesar 40 MW, studi kelayakan kerja sama dengan PLN akan dilakukan kemudian, termasuk menetapkan harja jual listrik," kata Antono.
Untuk menuntaskan proyek itu, PT Jasa Sarana menggandeng PT Wijaya Karya dan PT Resource Jaya Taknik Management Indonesia (RMI) sekaligus membiayai penyelesaian proyek PLTP di kawasan lereng Gunung Tampomas itu.
Potensi PLTP Cisolok Sukabumi sekitar 40 MW, yang proyeknya ditargetkan dimulai pada 2011. Proyek tersebut akan digarap oleh PT Jasa Rekin Geothermal yang merupakan perusahaan bentukan PT Jasa Sarana Jabar dengan PT Rekonstruksi Industri (Rekin).
Namun demikian, penggunaan lahan untuk PLTP Cisolok masih terkendala karena sekitar 15 persen dari total 15.500 hektare lahan berada di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun.
"Saat ini masih dilakukan penyelesaian, Gubernur Jabar sudah mengajukan surat ke pemerintah terkait hal itu, di lain pihak lahan itu merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari rencana PLTP Cisolok," kata Direktur Utama PT Jabar Rekin Geothermal Avian Widiasmono.
Untuk membangun PLTP Cisolok dibutuhkan anggaran sebesar 127 juta dolar AS. Rencananya, perseroan akan menggandeng konsorsium untuk ikut membiayai proyek strategis yang mendukung ketahanan energi nasional itu.***2***
(S033)
Syarif A
Editor : Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.